Analis Sebut CIMB Niaga Kedepankan Pertumbuhan Kinerja yang Lebih Konservatif
JAKARTA, investortrust.id – PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) mencatat laba bersih sebesar Rp 4,4 triliun selama delapan bulan pertama di tahun 2024. Jumlah itu naik 4,2% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya alias year on year (YoY). Adapun pada bulan Agustus 2024, bank swasta yang sahamnya dimiliki salah satunya oleh investor kawakan Lo Kheng Hong itu membukukan laba bersih bank only Rp 479 miliar atau turun 16% secara bulanan (month on month/MoM) dan turun 3,6% YoY.
Investment Analyst Lead Stockbit Rahmanto Tyas menilai, kinerja bank only dari Bank CIMB Niaga pada Agustus 2024 sebagai performa yang netral. Performa tersebut didorong oleh penurunan net interest margin (NIM) secara bulanan dan kerugian valas, credit cost yang terjaga dan terjaganya likuiditas akibat melandainya pertumbuhan kredit.
Rahmanto memproyeksikan, strategi CIMB Niaga di tahun ini adalah mengedepankan pertumbuhan yang lebih konservatif. Pertumbuhan kredit nampaknya menurut ia adalah single digit, lebih rendah dari industri 10%-12%.
“Secara garis besar, kami melihat strategi BNGA ke depannya sebagai prudent growth in a profitable way. Kredit bertumbuh lebih rendah dari industri, demi menjaga likuiditas, profitabilitas (NIM), credit cost, dan kualitas aset,” ujarnya kepada investortrust.id, Senin (7/10/2024).
Baca Juga
CIMB Niaga Salurkan Pembiayaan Berkelanjutan Rp 56,4 Triliun di Semester I 2024
Hal itu, kata Rahmanto demi menjaga profitabilitas, kualitas aset, dan credit cost. Sehingga, laba bersihnya diekspektasikan naik single digit. “Tumbuh single digit, tapi lebih tinggi dibanding secara nilai dibanding tahun lalu,” ucapnya.
Adapun Bank CIMB Niaga pada tahun 2023 melaporkan perolehan laba sebelum pajak konsolidasi (audited) sebesar Rp 8,4 triliun pada tahun 2023, naik sebesar 27% YoY dan menghasilkan earnings per share Rp 259,45.
Secara rinci per Agustus 2024, penyaluran kredit (termasuk pembiayaan syariah) melandai ke 3,4% YoY di bawah guidance 2024 manajemen di level 5%–7%. Pertumbuhan ini didorong pertumbuhan pembiayaan syariah yang naik 11% YoY. Di sisi lain, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh lebih tinggi menjadi 4,3% YoY, sehingga loan to deposit ratio turun ke level 82,9%. Meski demikian, penyaluran kredit dan DPK secara bulanan masing–masing turun 1,5% MoM dan 1,4% MoM.
Baca Juga
CIMB Niaga (BNGA) Catat Laba Rp 4,37 Triliun per Agustus 2024, Simak Target Harga Sahamnya
Sementara net interest margin (NIM) pada Agustus 2024 mencapai 3,7%, turun secara bulanan. Hasil ini membuat NIM selama delapan bulan tahun ini menjadi 3,9%, di bawah guidance 2024 manajemen di kisaran 4,2%–4,4%. Hal ini menyebabkan net interest income (NII) tertekan menjadi Rp 993 miliar atau -9% MoM, -4% YoY pada Agustus 2024. Sehingga NII juga turun 4% YoY.
Penurunan NII juga sejalan dengan pre provision operating profit (PPOP) yang turun sebesar 13% MoM. Penyebabnya berlanjutnya kerugian dari penjabaran transaksi valuta asing (valas) sebesar Rp 307 miliar versus Juli 2024 yang rugi Rp 611 miliar.
“Adapun credit cost (CoC) pada Agustus 2024 mencapai 0,45% yang kami nilai masih di level yang terjaga meski sedikit meningkat. Hasil tersebut membuat credit cost selama 8M24 menjadi 0,6%, lebih baik dibandingkan guidance 2024 manajemen di kisaran 1–1,1%. Terjaganya CoC tercermin pada penurunan beban provisi selama delapan bulan 2024 turun -41% YoY,” ucap Rahmanto.

