Ini Alasan Asuransi Khusus AI Masih Sepi Peminat
JAKARTA, investortrust.id - Dalam laporan Digital Wealth & Wellness 2024 dari Beazley menunjukkan, kurang dari sepertiga atau 30% perusahaan global yang telah memiliki perlindungan asuransi khusus untuk melindungi risiko digital khususnya terkait kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dari kejahatan siber.
Melansir Insurance Asia, Senin (30/9/2024), laporan Beazley menggarisbawahi pentingnya asuransi yang memadai karena teknologi yang digerakan oleh AI seperti algoritma pembelajaran mendalam berpotensi menimbulkan risiko yang kompleks.
Karena AI sering kali beroperasi sebagai black box, menjadi sulit untuk sepenuhnya mempercayai rekomendasinya atau untuk menentukan dan mengoreksi bias yang mengarah pada peningkatan dari paparan risiko.
Baca Juga
OJK Cabut Izin Pembentukan Unit Syariah PT Asuransi Allianz Life Indonesia
Menurut survei terhadap 600 eksekutif industri di seluruh Eropa, Amerika Utara, dan Asia, para eksekutif semakin fokus pada masalah kepercayaan dan bias seiring percepatan adopsi AI di sektor tersebut.
Di luar itu, tantangan rantai pasok dan perekrutan menjadi rintangan signifikan bagi perusahaan kesehatan digital, dengan 29% dan 28% responden menyebutkan persoalan ini, dibandingkan dengan 17% dan 16% pada 2022.
Akibatnya, kurang dari separuh atau 43% bisnis yang disurvei mengharapkan pertumbuhan pada 2024 dengan disparitas regional yang mempengaruhi prospek tersebut.
Baca Juga
Sementara, hanya 37% responden dari Singapura yang mengharapkan bisnis mereka tumbuh. Italia dan Inggris memiliki harapan tertinggi untuk pertumbuhan, masing-masing sebesar 56% dan 54%.
Ancaman keamanan siber dan risiko kompetensi tetap menjadi perhatian utama para eksekutif. Kekhawatiran tentang kesalahan penyajian kompetensi dalam perawatan atau saran telah meningkat menjadi 38%, naik dari 24% pada 2022.
Sementara itu, risiko dunia maya seperti ransomware dan phishing kian mengkhawatirkan 35% eksekutif, dibandingkan dengan 27% pada 2022.

