Pembiayaan dan DPK Tumbuh, Laba BSI Naik 20,28% Jadi Rp 3,4 Triliun di Semester I 2024
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) atau BSI mencatatkan kenaikan laba bersih 20,28% secara tahunan menjadi Rp 3,4 triliun. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh tumbuhnya pembiayaan dan dana pihak ketiga (DPK).
Direktur Utama BSI Hery Gunardi mengungkapkan, perseroan berhasil menjaga kinerja keuangan dan bisnis secara positif di tengah kondisi makro ekonomi yang menantang. Hal ini tercermin dari pertumbuhan di beberapa pos seperti pembiayaan, DPK, termasuk juga rasio dana murah atau current account saving account (CASA).
“Capaian kinerja tersebut antara lain buah dari konsistensi manajemen menerapkan strategi bisnis perusahaan untuk fokus tumbuh sustain pada segmen ritel, konsumer, serta usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) baik dari sisi pendanaan maupun pembiayaan,” katanya, dalam konferensi pers paparan kinerja BSI kuartal II 2024, secara virtual, Senin (2/9/2024).
Menurut Hery, hingga semester I tahun ini pihaknya berhasil menyalurkan total pembiayaan sebesar Rp 257,39 triliun, tumbuh 15,99% secara tahunan. Rasio pembiayaan bermasalah juga terjaga dengan non performing financing (NPF) gross yang turun ke level 1,99%, dari Juni 2023 sebesar 2,31%.
“Pembiayaan ditopang oleh segmen ritel dan konsumer termasuk UMKM yang mencapai Rp 184,61 triliun. Segmen wholesale mengomposisi 28,27% dengan outstanding Rp 72,77 triliun,” katanya.
Baca Juga
Hal ini menunjukkan bahwa segmen ritel, konsumer dan UMKM memberikan kontribusi besar bagi pertumbuhan pembiayaan BSI. Selain itu, BSI berhasil juga berhasil mencatatkan kenaikan DPK sebesar 17,50% secara tahunan menjadi Rp 296,70 triliun.
Dari total DPK, lanjut Hery, dana murah masih menjadi kontributor utama dengan porsi mencapai 62,05% dari total DPK. Jika dirinci lebih lanjut, produk tabungan dan giro masing-masing mengkontribusi 43,40% dan 18,65% dari total DPK.
Baca Juga
“Dengan kondisi likuiditas dan pembiayaan sepanjang kuartal II 2024, pendapatan perusahaan ditopang oleh pendapatan margin dan bagi hasil yang naik 11,44% menjadii Rp 12,08 triliun, serta pendapatan berbasis fee yang tumbuh 28,01% menjadi Rp 2,48 triliun,” ucapnya.
“Di sisi lain, rasio efisiensi (beban operasional terhadap pendapatan operasional/BOPO) turun dari 70,87% ke level 69,23%. Dari sisi profitabilitas, ROE (return on equity) perusahaan membaik ke 17,88%, naik dari 17,27% posisi Juni 2023,” ujar Hery.

