Asuransi MSIG Indonesia Sebut Tiga Hal Ini Jadi Tantangan Implementasi PSAK 117
JAKARTA, investortrust.id - Industri asuransi kini terus bersiap dalam implementasi pernyataan standar akuntansi keuangan (PSAK) 117 yang akan resmi berlaku pada 2025 mendatang, tak terkecuali bagi Asuransi MSIG Indonesia. Namun menurut perusahaan asuransi umum itu, setidaknya ada tiga kendala yang dihadapi dalam penerapan pelaporan keuangan baru ini.
“Dari sisi aktuaris of course ada tantangan, granularity data, kemudian bisnis portofolio dari masing-masing perusahaan berbeda,” ujar Vice President Director Asuransi MSIG Indonesia Bernardus Wanandi, menjawab pertanyaan Investortrust, Senin (26/8/2024).
Menurutnya, ketiga kendala tersebut bisa diatasi melalui bantuan konsultan, termasuk di Asuransi MSIG Indonesia sendiri. Menjalin kerja sama dengan konsultan utamanya untuk membantu mengatasi tantangan-tantangan yang bahkan diluar kendali sekalipun.
Baca Juga
Indonesia Berpotensi Dilanda Gempa Dahsyat Megathrust, Asuransi MSIG Indonesia Siap Beri Proteksi
”Konsultan untuk menjalankan PSAK 117 tidak hanya (untuk) aktuaris, tapi juga berkaitan dengan datanya, bagaimana cara milah-milahnya, dan kita pakai sistem seperti apa. Itu semua harus dipersiapkan,” kata Bernardus.
Di lain sisi, Asuransi MSIG Indonesia menegaskan kesiapannya untuk menerapkan PSAK 117 tahun depan. Terlebih, karena perusahaan asuransi ini merupakan joint venture, maka sudah lebih dulu mulai menerapkan pelaporan keuangan baru ini sejak tahun lalu.
“Jadi kita sudah (menerapkan) karena di head office kita secara konsolidasi juga sudah pakai IFRS 17 (PSAK 117). Jadi kita punya perhitungan dan kita juga sesuai dengan komitmen kita ke industri asuransi di Indonesia,” ucap Bernardus.
Baca Juga
Gandeng Asuransi MSIG Indonesia, Castrol Sediakan Proteksi bagi Pengendara Motor
Karena berstatus joint venture, lanjut Bernardus, pihaknya seringkali diundang untuk duduk bersama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai narasumber terkait tantangan implementasi PSAK 117.
“Kita dengan sukarela datang dan memberikan sharing information ke regulator. Karena buat kita, yang penting knowledge yang kita dapatkan dari (induk) itu bisa kita share, dan untuk mengantisipasi masalah apa yang kemungkinan akan terjadi ke depan,” ujarnya.

