Dari Kredit ke Ekosistem, Jurus KB Bank (BBKP) Kembangkan Wholesale Banking
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank KB Indonesia Tbk atau KB Bank (BBKP) mulai menggeser pendekatan bisnis wholesale banking dari sekadar mengejar pertumbuhan kredit menuju pengembangan ekosistem bisnis nasabah. Strategi ini ditempuh dengan mengintegrasikan pembiayaan, transaksi, treasury hingga layanan perbankan lainnya dalam satu hubungan yang lebih menyeluruh.
Wholesale banking sendiri merupakan layanan perbankan yang biasanya dihadirkan khusus untuk nasabah berskala besar, seperti perusahaan multinasional, institusi keuangan, pemerintah, dan lembaga besar lainnya.
Jika segmen retail banking melayani individu atau masyarakat umum misalnya untuk menabung atau mencicil kendaraan, maka wholesale banking melayani transaksi keuangan bernilai sangat besar yang dibutuhkan korporasi.
Direktur Wholesale Banking KB Bank Widodo Suryadi mengungkapkan, wholesale banking tidak lagi hanya diposisikan sebagai mesin penyaluran pembiayaan, tapi sebagai mitra strategis yang memahami kebutuhan nasabah secara menyeluruh.
“Wholesale banking bagi kami bukan hanya tentang menyalurkan pembiayaan. Kami ingin menjadi strategic partner yang memahami kebutuhan bisnis nasabah secara menyeluruh, dari pembiayaan, transaksi, treasury, dan solusi perbankan lainnya,” ujarnya, dalam KB Bank Media Workshop, di Jakarta, Kamis (24/9/2026).
Pendekatan tersebut, lanjut Widodo, menjadi bagian dari strategi KB Bank untuk menjadikan wholesale banking sebagai main operating bank bagi nasabah sekaligus ekosistem bisnisnya. Model ini memungkinkan bank tidak hanya melayani perusahaan utama (anchor company), tapi juga menjangkau pemasok, distributor hingga karyawan dalam rantai bisnis tersebut.
Dalam menjalankan strategi tersebut, wholesale banking KB Bank mengusung empat prinsip pertumbuhan, yaitu ecosystem based, transaction led, quality before volume, dan Korea-Indonesia link.
Melalui pendekatan ecosystem based, bank berupaya melayani seluruh rantai nilai bisnis secara terpadu, mulai dari perusahaan utama, pemasok, distributor hingga karyawan. Sementara pendekatan transaction led menempatkan penguasaan rekening operasional dan arus kas harian nasabah sebagai bagian penting dari hubungan perbankan.
Dengan model tersebut, kata Widodo, pembiayaan tidak berdiri sendiri. Kredit menjadi bagian dari hubungan yang lebih luas, yang mencakup layanan pengelolaan kas (cash flow), pembayaran (payments), penerimaan dana, transaksi perdagangan (trade) , valuta asing (valas) hingga pengelolaan likuiditas.
Kredit Wholesale Tumbuh
Strategi tersebut berjalan di tengah pertumbuhan bisnis wholesale banking KB Bank. Total kredit wholesale banking tumbuh 2,85%, dari Rp 29,45 triliun pada Desember 2025 menjadi Rp 30,28 triliun pada Juni 2026. Sementara, kredit normal wholesale banking (kredit dengan kol 1) tumbuh 2,23% dari Rp 22,27 triliun pada Desember 2025 menjadi Rp 22,77 triliun per Juni tahun ini.
Menurut Widodo, KB Bank menekankan prinsip quality before volume dalam ekspansi bisnis. Prinsip ini mencakup penerapan standar kredit yang konsisten, pemantauan portofolio secara ketat, serta menjaga struktur neraca dan pendanaan tetap sehat.
Dengan begitu, pertumbuhan kredit tidak menjadi satu-satunya ukuran pengembangan bisnis wholesale. Bank juga berupaya memperbesar hubungan transaksi dengan nasabah sehingga aktivitas keuangan sehari-hari dapat semakin banyak dilakukan melalui KB Bank.
Transaction Banking Jadi Andalan
Salah satu instrumen yang penting dalam strategi tersebut adalah transaction banking. KB Bank melihat layanan transaction banking sebagai pintu untuk membangun hubungan yang lebih dalam dengan nasabah wholesale.
Transaction Banking Division Head KB Bank Novita S Djani mengatakan, layanan tersebut dirancang untuk menghubungkan berbagai aktivitas bisnis nasabah agar berjalan lebih sederhana dan efisien.
“Transaction banking bagi kami adalah bagaimana menghubungkan berbagai aktivitas bisnis nasabah agar dapat berjalan lebih sederhana, cepat, dan efisien. Ketika kami dapat membantu operasional mereka berjalan lebih baik, kami juga semakin memahami dan dekat dengan bisnis mereka,” katanya.
Melalui platform digital KBstarbiz, lanjut Novita, KB Bank mengintegrasikan sejumlah kebutuhan transaksi nasabah, mulai dari payroll, collections, payments, trade finance, hingga valas. Integrasi tersebut memberikan visibilitas yang lebih baik terhadap arus kas dan likuiditas bank.
“Hal itu membuat nasabah dapat lebih fokus pada bisnisnya, sementara kami dapat membangun hubungan yang semakin dalam,” ucapnya.
Novita mengatakan, strategi ini menjadi penting karena nasabah wholesale masih memiliki kebutuhan perbankan yang tersebar di sejumlah institusi. KB Bank melihat kondisi tersebut sebagai peluang untuk mengkonsolidasikan layanan dan meningkatkan perannya sebagai bank operasional utama nasabah.
Manfaatkan Korea-Indonesia Link
Selain membangun ekosistem domestik, KB Bank memanfaatkan jaringan KB Financial Group untuk memperkuat konektivitas bisnis Korea Selatan dan Indonesia. Widodo menjelaskan, Korea-Indonesia Link menjadi salah satu kekuatan wholesale banking KB Bank karena memungkinkan bank menghubungkan perusahaan asal Korea, korporasi besar, BUMN dan perusahaan multinasional di Indonesia.
“Salah satu kekuatan wholesale banking KB Bank adalah Korea-Indonesia Link. Dengan dukungan KB Financial Group, kami menghubungkan perusahaan Korea, korporasi besar, BUMN, dan perusahaan multinasional di Indonesia melalui solusi perbankan yang terintegrasi, termasuk transaksi rupiah-won,” ujarnya.
Menurut Widodo, KB Bank secara khusus membidik korporasi asal Korea Selatan yang beroperasi di Indonesia, termasuk perusahaan manufaktur dan trading house, sekaligus menghubungkannya dengan rantai pasok (supply chain) lokal.
Bank juga menyediakan transaksi perdagangan bilateral menggunakan mata uang lokal rupiah dan won atau IDR-KRW. Skema tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat efisiensi transaksi dalam koridor perdagangan kedua negara.
Menjalar ke Segmen UKM
Pendekatan berbasis ekosistem juga diterapkan KB Bank melalui enterprise banking yang menyasar usaha kecil dan menengah (UKM) serta perusahaan berskala menengah. Melalui model tersebut, bank berupaya menghubungkan pelaku usaha dengan ekosistem korporasi maupun jaringan bisnis Korea yang telah dimiliki KB Bank. layanan yang ditawarkan mencakup pembiayaan, transaksi dan pendampingan melalui relationship manager.
Enterprise Banking Division Head KB Bank Achiro Yulian Opereta menyatakan, karakteristik UKM juga usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) membutuhkan pendekatan dan solusi yang disesuaikan dengan kebutuhan bisnis masing-masing.
“Melalui pendekatan ecosystem banking, kami ingin menghadirkan solusi yang relevan dengan kebutuhan mereka dan mendukung UMKM untuk terus berkembang sebagai bagian dari ekosistem bisnis yang lebih luas,” kata Achiro.
Kredit Korporasi Menguat, Wholesale Banking Makin Prospektif
Prospek bisnis wholesale banking di Indonesia dinilai masih positif hingga akhir 2026, seiring kuatnya pertumbuhan kredit korporasi dan investasi.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, kredit perbankan tumbuh 13,58% secara year on year (yoy) menjadi Rp 9.135 triliun pada Juli 2026. Pertumbuhan tersebut beberapa diantaranya ditopang oleh kredit korporasi yang naik 22,10% dan kredit investasi yang tumbuh 25,13%.
Pengamat EKonomi dan Perbankan Binus University Doddy Ariefianto mengungkapkan, pertumbuhan tersebut menunjukkan kebutuhan pembiayaan korporasi masih menjadi motor penting intermediasi perbankan.
“Menurut saya prospek wholesale banking masih cukup kuat,” ujarnya, kepada Investortrust, Selasa (29/9/2026).
Peluang pertumbuhan, lanjut Doddy, terbuka pada pembiayaan investasi, infrastruktur, energi, perdagangan, supply chain, hingga layanan treasury dan transaction banking.
Setali tiga uang, Pengamat Perbankan dan Praktisi Sistem Pembayaran Arianto Muditomo mengatakan, kenaikan kredit khususnya ke segmen korporasi, menunjukkan masih terbukanya ruang pertumbuhan bagi bisnis wholesale banking.
“Hal tersebut menunjukkan prospek wholesale banking yang positif. Kebutuhan perusahaan terhadap pembiayaan investasi, modal kerja, dan layanan transaksi terus berkembang,” katanya, kepada Investortrust, Selasa (29/9/2026).
Ke depan, bisnis wholesale banking diperkirakan semakin bergeser dari sekadar penyaluran kredit menuju ekosistem layanan keuangan yang terintegrasi. Bank dituntut menggabungkan pembiayaan, cash management, trade finance, supply chain finance, treasury, dan layanan digital.
Meski begitu, keduanya kompak menyebut jika ekspansi tetap menghadapi sejumlah tantangan, antara lain ketidakpastian ekonomi global, volatilitas nilai tukar dan harga komoditas, biaya dana, serta risiko kualitas kredit.
Terlepas dari itu, strategi berbasis ekosistem yang diterapkan KB Bank tersebut pada akhirnya menempatkan kredit sebagai salah satu bagian dari hubungan bisnis yang lebih luas. Bank tidak hanya mengejar pertumbuhan pembiayaan, tapi juga berupaya menguasai transaksi dan membangun keterhubungan dengan seluruh rantai bisnis nasabah.
