KB Bank (BBKP) Bidik Pertumbuhan Kredit Wholesale 15% di 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank KB Indonesia Tbk atau KB Bank (BBKP) membidik pertumbuhan kredit wholesale sekitar 15% secara year on year (yoy) hingga akhir 2026. Target tersebut didukung oleh pipeline kredit yang dinilai masih cukup kuat serta strategi pengembangan pembiayaan berbasis ekosistem.
Wholesale Banking Director KB Bank Widodo Suryadi mengungkapkan, target pertumbuhan kredit dalam rencana bisnis bank (RBB) berada pada kisaran high single digit hingga low double digit. Namun, realisasi pertumbuhan kredit baru hingga Juni 2026 menunjukkan tren yang lebih tinggi.
“Kalau kita ngomongin pertumbuhan kredit baru di wholesale sendiri sudah hampir mencapai 13%. Kalau kami mempertahankan base seperti ini, mestinya pertumbuhan yoy-nya nanti Desember 2025 terhadap Desember 2026 itu mungkin bisa sekitar 15%,” ujarnya, menjawab pertanyaan Investortrust, dalam KB Bank Media Workshop, di Jakarta, Kamis (24/9/2026).
Baca Juga
KB Bank Syariah Buka Akses Pendidikan bagi Generasi Muda Prasejahtera
“Karena di pipeline kami pun juga cukup lumayan, dan ini bisa menyumbang angka yang juga lumayan bagus,” sambung Widodo.
Ia mengatakan, total kredit komersial dan SME KB Bank tercatat Rp 29,45 triliun pada Desember 2025. Nilainya meningkat menjadi Rp 30,28 triliun pada Juni 2026 atau tumbuh 2,85% secara year to date (ytd).
Sementara, jika hanya memperhitungkan kredit dengan kolektibilitas 1 atau kredit yang tergolong lancar (normal loan), nilainya naik 2,23 (ytd) dari Rp 22,27 triliun pada Desember 2025 menjadi Rp 22,77 triliun pada Juni 2026.
Widodo menjelaskan, pertumbuhan kredit baru tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya KB Bank untuk memperbaiki kualitas portofolio kredit lama. Dengan bertambahnya portofolio kredit baru yang berkualitas, rasio kredit bermasalah diharapkan dapat membaik secara bertahap.
“Kami memerlukan pertumbuhannya ini untuk ‘mencuci’ portofolio yang lama. Jadi sebenarnya dengan yang ini harusnya rasio kredit bermasalah itu juga turun dengan sendirinya, karena dengan pertumbuhan yang lebih kuat di pertumbuhan kredit barunya,” katanya.
Baca Juga
Tingkatkan Layanan di Jateng, KB Bank (BBKP) Resmikan Kantor Cabang Semarang
Fokus Ekosistem
Untuk mencapai target pertumbuhan tersebut, KB Bank mempertahankan strategi pembiayaan berbasis ekosistem. Bank berkode BBKP ini berupaya menghubungkan kebutuhan pembiayaan berbagai pelaku dalam satu rantai bisnis, mulai dari perusahaan utama hingga pemasok dan pihak terkait dalam rantai pasok.
Menurut Widodo, pendekatan tersebut membutuhkan waktu sebelum memberikan dampak yang optimal terhadap pertumbuhan kredit. KB Bank memperkirakan, terdapat jeda sekitar tiga hingga enam bulan sejak pemetaan ekosistem yang dilakukan hingga potensi pembiayaannya mulai terlihat.
“Dalam waktu tiga sampai enam bulan itu juga terus kita garap. Harapan kami dalam setahun ke depan, ekosistem itu akan terlihat,” ucapnya.
Sampai saat ini, KB Bank telah membentuk sekitar lima hingga enam ekosistem pembiayaan. Meski penetrasinya masih belum sesuai dengan target, Widodo menyebut ekosistem tersebut telah mulai menunjukkan hasil.
“Per hari ini ada kira-kira lima atau enam ekosistem yang sudah terbentuk di kita, itupun juga masih perlu peningkatan, penetrasinya juga belum sesuai yang kita mau tapi susah menunjukkan hasil,” ujarnya.
“Jadi kira-kira sudah berjalan hampir sembilan bulan itu sudah lima sampai enam ekosistem berjalan,” sambung Widodo.
Komposisi Bisnis Wholesale KB Bank
Dari sisi komposisi bisnis, KB Bank saat ini masih mengelompokkan segmen corporate dan commercial ke dalam kategori wholesale. Perseroan belum memisahkan kedua segmen itu secara khusus dalam pelaporan hingga tahun ini.
Widodo mengatakan, pihaknya tengah mempertimbangkan pemisahan corporate dan commercial agar informasi mengenai kinerja masing-masing segmen dapat terlihat lebih jelas dalam laporan.
“Ke depannya, saya pikir akan coba membicarakan dengan teman-teman bagian finance untuk memisahkan segmen ini supaya lebih jelas. Jadi ke depannya juga nanti kalau melihat di laporan kami bisa lebih informatif,” katanya.
Hingga Juni 2026, segmen corporate dan commercial yang termasuk dalam wholesale menyalurkan kredit sekitar Rp 4 triliun. Sementara. Sekitar Rp 6 triliun berasal dari segmen usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) serta usaha kecil menengah (UMKM) atau small medium enterprise (SME).
“Kalau kita ngomongin mengenai wholesale sendiri, per Juni kemarin itu sekitar ada di angka sekitar Rp 24 triliun, dan Rp 6 triliunnya ada di UMKM dan SME,” ucap Widodo.
