Bos BTN Sebut Penguatan Tata Kelola dan AI Dorong Kinerja Bisnis
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN (BBTN) Nixon L.P Napitupulu mengungkapkan, transformasi yang dijalankan pijaknya selama lima tahun terakhir menjadi fondasi penguatan kinerja bisnis. Transformasi tersebut mencakup perbaikan tata kelola, manajemen risiko, digitalisasi proses bisnis, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Ia menjelaskan, sejak 2019 BTN menempatkan aspek tata kelola dan manajemen risiko sebagai pusat dari seluruh agenda transformasi. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menerapkan prinsip four eyes principle serta menempatkan fungsi change management office di bawah direktur risk management agar seluruh keputusan strategis terkait perubahan melalui pertimbangan komite risk management.
Selain itu, BTN juga mengimplementasikan Sistem Manajemen Anti Suap (SMAP), melakukan sentralisasi fungsi operasional dan back office, membentuk strategic business unit (SBU), serta memperkuat fungsi pengawasan melalui skema 1,5 line of defense di tingkat regional maupun kantor cabang.
“Kemudian membentuk loan processing center, kemudian kita lakukan banyak perubahan di consumer, terutama di KPR (kredit pemilikan rumah) itu sendiri. Karena dulu keputusan KPR lama, setelah kita lakukan re-engineering di bisnis proses KPR, sekarang lebih banyak menggunakan AI dan sebagainya sehingga prosesnya bisa tiga sampai lima hari,” ujar Nixon, dalam acara Risk and Governance Summit (RGS) 2026 yang digelar Otoritas Jasa Keuangan (OJK), di Jakarta, Selasa (14/7/2026).
Transformasi, lanjut dia, juga dilakukan pada proses bisnis kredit serta segmen usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) melalui sentralisasi proses, penguatan manajemen risiko digital, risiko operasional, serta pengelolaan risiko fraud. Untuk mempercepat perubahan tersebut, BTN merekrut sejumlah talenta dari luar perusahaan guna memperkuat fungsi manajemen risiko.
Di sisi tata kelola, bank berkode saham BBTN ini juga mengklaim terus mengembangkan kerangka environmental, social, and governance (ESG), menerapkan early warning system, risk modeling, serta stop and go mechanism yang memungkinkan penghentian sementara aktivitas tertentu apabila indikator risiko telah mendekati ambang batas.
“Begitu ada ambang batas tercapai atau menjelang tercapai, langsung dia stop. Langsung akan ada pemeriksaan, kemudian bisa dilanjutkan apabila ambangnya sudah turun,” kata Nixon.
Pemanfaatan AI, kata dia, juga diterapkan untuk mendukung pembelajaran internal karyawan. BTN mengembangkan aplikasi berbasis AI yang memungkinkan pegawai mencari standar operasional prosedur (SOP) secara cepat beserta contoh kasus. Sehingga tak lagi bergantung pada pengetahuan informal dari senior.
Nixon melanjutkan, memasuki periode 2025 hingga saat ini, pihaknya menjalankan program balance sheet optimization, merapikan aset-aset yang kurang produktif, meningkatkan digitalisasi untuk efisiensi operasional, serta menekan biaya operasional.
Ia menjelaskan, penerapan governance, risk, and compliance (GRC) di BTN tak hanya berfungsi sebagai mekanisme pengawasan, tapi telah menjadi bagian dari seluruh proses bisnis, mulai dari keputusan kredit, persetujuan transaksi, hingga pengembangan produk baru.
“Kemudian juga yang paling penting di depan dalam pengembangan produk, itu juga kita udah masukkan proses GRC-nya,” ucapnya.
