Pelemahan Rupiah Berpotensi Dorong Penyesuaian Premi Asuransi Kesehatan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Ketidakpastian geopolitik global yang memicu fluktuasi harga energi, nilai tukar, dan kondisi ekonomi dunia berpotensi berdampak terhadap industri asuransi nasional. Salah satu efek yang mulai diantisipasi adalah potensi penyesuaian premi asuransi kesehatan akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Plt Direktur Utama Asuransi Jiwa Inhealth Indonesia Marihot H Tambunan mengungkapkan, industri asuransi kesehatan masih memiliki ketergantungan yang cukup besar terhadap produk dan layanan yang menggunakan mata uang dolar AS, mulai dari alat kesehatan hingga bahan baku obat.
“Kalau ditanya berdampak, pasti berdampak. Tanpa mengurangi penghargaan kita kepada kemampuan industri kesehatan dan farmasi nasional, masih sangat banyak atau bahkan dominan alat kesehatan maupun farmasi, termasuk biarpun produksi dalam negeri, tapi bahan bakunya impor. Itu menggunakan kuotasi dolar,” ujarnya, dalam Webinar OJK Institute bertajuk Perlindungan Kesehatan dan Ketahanan Finansial: Peran Asuransi dalam Menghadapi Risiko Masa Depan, Kamis (25/6/2026).
Baca Juga
OJK Dorong Implementasi KAPJ untuk Perkuat Ekosistem Asuransi Kesehatan
Marihot menjelaskan, kenaikan biaya akibat pelemahan rupiah dapat mempengaruhi beban klaim dan struktur biaya perusahaan asuransi. Kondisi tersebut berpotensi menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan dalam penetapan premi saat masa perpanjangan polis (renewal).
Selain berasal dari biaya obat dan layanan kesehatan, tekanan biaya juga datang dari produk asuransi yang memberikan manfaat perawatan di luar negeri. Pasalnya, tagihan rumah sakit di negara tujuan umumnya menggunakan dolar AS atau mata uang asing lainnya.
“Jadi kalau mereka berobat ke luar negeri tagih dalam dolar, tentu berdampak juga kepada kita. In juga kita review, jadi kita adjust nanti kalau pakai itu preminya,” kata Marihot.
Ia menambahkan, tekanan akibat pelemahan rupiah tidak hanya dirasakan dari sisi klaim kesehatan, tapi juga pada biaya operasional perusahaan. Saat ini, banyak layanan teknologi informasi, digitalisasi, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang masih menggunakan lisensi dan layanan dari penyedia luar negeri dengan pembayaran dalam dolar AS.
“Saya pernah hitung perpanjangan kita karena kenaikan rate atau kurs dolar saja untuk semua layanan teknologi informasi yang kita pakai itu, hanya karena kenaikan kurs itu 8% sampai 9%. Jadi dari situ saja sudah berpengaruh,” ucap Marihot.
Baca Juga
Meski begitu, ia menyatakan dampak pelemahan rupiah saat ini masih relatif dapat dikelola. Salah satu faktor yang membantu adalah adanya kesepakatan harga dengan sejumlah perusahaan farmasi sehingga kenaikan biaya belum sepenuhnya diteruskan ke perusahaan asuransi.
Namun, ia mengingatkan bahwa apabila tekanan nilai tukar berlangsung dalam jangka panjang, maka penyesuaian harga maupun premi akan sulit dihindari.
