Perkuat Literasi Perdagangan Berjangka, JFX Gandeng Puluhan Kampus
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) atau Jakarta Futures Exchange (JFX) terus memperkuat upaya peningkatan literasi perdagangan berjangka di kalangan generasi muda, melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi dan pemanfaatan platform digital.
Direktur Utama Jakarta Futures Exchange (JFX) Yazid Kanca Surya memandang, pendekatan edukasi kepada generasi muda perlu terus disesuaikan dengan perkembangan zaman. Mengingat, cara mereka belajar, mengakses informasi, dan memahami suatu industri saat ini berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu.
Sebagai bagian dari strategi tersebut, JFX telah menjalin kerja sama dengan sekitar 20-30 perguruan tinggi di berbagai daerah di Indonesia. Melalui kolaborasi ini, JFX tidak hanya mengasah kemampuan bertransaksi, tetapi juga pemahaman terhadap fungsi ekonomi dari perdagangan berjangka.
“Kami ingin mahasiswa memahami bahwa industri ini berkaitan dengan perdagangan komoditas, manajemen risiko, ekonomi global, hingga bagaimana perusahaan melindungi bisnisnya dari fluktuasi harga,” ujar Kanca biasa ia disapa, baru-baru ini.
Baca Juga
Selain menggandeng dunia akademik, JFX juga memanfaatkan berbagai platform digital untuk menjangkau generasi muda dengan materi yang lebih sederhana dan mudah dipahami. Edukasi difokuskan pada isu-isu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti pergerakan harga emas, nilai tukar, energi, maupun perkembangan komoditas global.
Dalam kesempatan yang sama, JFX mengingatkan investor pemula agar tidak terburu-buru masuk ke suatu instrumen investasi, tanpa memahami karakteristik dan risiko yang melekat di dalamnya.
Menurut Kanca, salah satu kesalahan paling umum yang dilakukan investor pemula adalah berinvestasi hanya karena melihat kenaikan harga atau mendengar cerita keuntungan dari orang lain.
Dia menekankan bahwa sebelum mempertimbangkan potensi keuntungan, investor perlu memahami terlebih dahulu profil risiko mereka masing-masing. Pasalnya setiap instrumen investasi memiliki karakteristik yang berbeda dan harus disesuaikan dengan tujuan investasi, jangka waktu, serta tingkat risiko yang siap ditanggung masing-masing investor.
“Saya selalu mengatakan bahwa tidak ada instrumen investasi yang bebas risiko, baik saham, obligasi, emas, maupun instrumen derivatif. Semuanya memiliki risiko yang harus dipahami sejak awal,” tegas Kanca.
Selain memahami produk investasi, investor juga perlu mempelajari berbagai faktor yang memengaruhi pergerakan harga. Hal ini dapat melibatkan kondisi ekonomi global, kebijakan suku, perkembangan geopolitik, hingga dinamika permintaan bunga dan penawaran.
“Semakin baik pemahaman seseorang terhadap faktor-faktor tersebut, semakin baik pula kualitas keputusan investasinya,” tandas Kanca.
Baca Juga
Rupiah Fluktuatif, JFX Catat Lonjakan Transaksi Emas dan Siapkan 46 Pasangan Mata Uang Asing
Lebih lanjut, dia menilai pemahaman mengenai instrumen derivatif perlu menjadi bagian dari literasi keuangan generasi muda Indonesia. Mengingat, instrumen derivatif dinilai bukan sekadar sarana investasi atau perdagangan, melainkan bagian dari mekanisme ekonomi modern yang digunakan secara luas di berbagai negara.
Pemahaman mengenai cara kerja instrumen derivatif dinilai penting, seiring meningkatnya aktivitas perdagangan internasional, investasi, dan industri berbasis komoditas di Indonesia.
“Pesan kami sederhana, tidak perlu terburu-buru untuk bertransaksi, yang penting adalah memahami cara kerja pasar dan bagaimana risiko dapat dikelola. Kemampuan mengelola risiko akan menjadi salah satu keterampilan yang semakin penting di masa depan,” pungkas Kanca.
