Antisipasi Hantavirus, Prudential Klaim Lebih Siap Berkat Pengalaman Pandemi Covid-19
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kekhawatiran terhadap kemunculan hantavirus yang disebut sebagai potensi ancaman kesehatan baru mendorong para pelaku bisnis untuk meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat langkah pencegahan. Industri asuransi menilai, pengalaman menangani pandemi covid-19 menjadi bekal berharga dalam menyusun skenario antisipasi yang lebih terencana.
Chief Health Officer Prudential Indonesia Yosie William Iroth mengungkapkan, pihaknya saat ini mulai mengidentifikasi berbagai kemungkinan risiko yang bisa timbul apabila ancaman kesehatan global meluas. Ia menilai, tingkat kesiapan industri saat ini jaug lebih baik dibanding saat awal pandemi covid-19 pada 2020.
“Sama seperti waktu covid, tentu kita mengikuti arahan dari Kementerian Kesehatan atau pemerintah. Apakah kita aware? Of course. Karena ini dari sisi risiko, risiko yang sudah di-alert dari global team kita. Kita juga harus aware,” ujarnya, peluncuran PRULady, di Jakarta, Kamis (21/5/2026).
Menurut Yosie, Prudential tak hanya menyiapkan skenario medis, tapi juga mulai menghitung potensi dampak dari sisi operasional dan finansial.
“Karena sudah ada pengalaman mengenai covid, jadi kita harus aware. Sudah mulai dinilai risikonya seperti gimana, skenario-skenarionya seperti gimana, bukan cuma skenario medical-nya,” katanya.
Baca Juga
Prudential Rilis Produk Asuransi Kanker Payudara, Tawarkan Uang Pertanggungan hingga 140%
Yosie menilai, industri global saat ini lebih tangguh dalam menghadapi risiko kesehatan dibandingkan beberapa tahun lalu. Pandemi dinilai telah membentuk sistem respon dan mitigasi yang lebih kuat di berbagai lini.
“Globally kita sudah pernah hadapi kasus covid, kita harusnya sudah lebih resilient, dibanding saat kita hadapi covid tahun 2020,” ucapnya.
Meski begitu, Yosie menekankan bahwa isu hantavirus sejauh ini belum berdampak langsung pada peningkatan minat masyarakat terhadap produk asuransi. Pihaknya juga tidak ingin memanfaatkan keresahan publik sebagai alat pemasaran.
“Saya tidak bisa menilai, kita juga tidak bisa menggunakan, memanfaatkan rasa takut gitu, tidak boleh kita jual asuransi, itu kan bentuk kesadaran untuk melindungi diri,” katanya, menjawab pertanyaan Investortrust.

