BCA Cetak Laba Rp 14,7 Triliun di Kuartal I 2026, Kredit Tumbuh Solid Berkat Momentum Ramadan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank Central Asia Tbk atau BCA mengawali tahun 2026 dengan catatan kinerja keuangan yang positif. Di tengah kondisi pasar yang dinamis, emiten berkode saham BBCA ini berhasil membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp 14,7 triliun pada kuartal I 2026, naik 3,8% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya Rp14,1 triliun. Pencapaian ini tidak lepas dari strategi perseroan dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan kredit dan pengelolaan risiko yang ketat.
Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk Hendra Lembong mengungkapkan bahwa pertumbuhan ini didorong oleh mobilitas ekonomi masyarakat yang meningkat di awal tahun. Perseroan melihat adanya gairah belanja dan investasi yang tetap terjaga meskipun situasi global masih memberikan tantangan tersendiri bagi sektor perbankan nasional.
Dalam Konferensi Pers Paparan Kinerja PT Bank Central Asia Tbk Kuartal I 2026 yang digelar secara virtual, Kamis (23/4/2026), Hendra menjelaskan faktor utama di balik performa impresif tersebut.
"Mengawali 2026, kinerja BCA dipengaruhi momentum Ramadan dan juga Idulfitri yang mendukung kinerja kredit," ujar Hendra.
Baca Juga
Dorong Pencegahan Stunting dari Hulu, BCA Salurkan Bantuan Alat Deteksi Dini Preeklamsia
Menurut Hendra, momentum hari raya tersebut terbukti efektif dalam memacu konsumsi rumah tangga dan kebutuhan modal kerja pelaku usaha. Selain faktor musiman, Hendra juga menyoroti keberhasilan rangkaian acara rutin tahunan perusahaan sebagai mesin penggerak kredit konsumer. Antusiasme masyarakat terhadap promo perbankan terlihat sangat tinggi pada periode ini.
"Tidak hanya itu, BCA Expoversary 2026 yang dilaksanakan sejak Februari tahun ini juga mendapatkan antusiasme tinggi dari nasabah dan masyarakat," tambahnya.
Melihat tingginya minat nasabah terhadap penawaran yang diberikan, manajemen memutuskan untuk memberikan ruang lebih luas bagi masyarakat untuk menikmati fasilitas bunga spesial.
"Sejalan dengan itu, kami memperpanjang pelaksanaan BCA Expoversary hingga 30 April 2026," kata Hendra.
Secara keseluruhan, total kredit BCA tercatat tumbuh 5,6% secara tahunan (year on year) menjadi Rp 994 triliun per Maret 2026. Pertumbuhan ini ditopang oleh kredit produktif yang mencapai Rp 760,2 triliun, atau naik sebesar 7,8% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Hal ini mencerminkan peran aktif BCA dalam mendukung roda perekonomian nasional.
Kredit BCA hingga akhir Maret 2026 terutama ditopang kredit produktif sebesar Rp 760,2 triliun, meningkat 7,8% YoY. Seiring komitmen menjalankan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), penyaluran kredit ke sektor-sektor berkelanjutan tumbuh 10,0% YoY menjadi Rp 258,4 triliun, atau setara 26,0% dari total portofolio pembiayaan BCA. Capaian ini didukung pertumbuhan kredit UMKM sebesar 12% YoY dengan outstanding Rp 146 triliun, mencerminkan dukungan BCA pada berbagai sektor perekonomian nasional. Kredit hijau BCA (green financing) tumbuh 7,7% YoY mencapai Rp113 triliun, salah satunya didukung penyaluran pembiayaan ke sektor Energi Baru dan Terbarukan (EBT) yang naik 53,5% YoY.
Baca Juga
BCA (BBCA) Dukung Implementasi QRIS Cross Border di Korea Selatan
Hendra meyakini bahwa prinsip kehati-hatian tetap menjadi komitmen utama perusahaan dalam berekspansi. Di mana, rasio loan at risk (LAR) dan non performing loan (NPL) terjaga, masing-masing 5,1% dan 1,8%. Rasio pencadangan LAR dan NPL ada pada level solid, masing-masing 69,7% dan 174,6%. Dari sisi pendanaan, total DPK BCA mencapai Rp1.292,4 triliun, tumbuh 8,3% YoY. Kenaikan CASA sejalan pengembangan perbankan transaksi BCA termasuk berbagai kanal digital dan non digital. Walaupun kredit tumbuh, kualitas aset tetap terjaga dengan rasio non performing loan (NPL) di level 1,8%.
"Kami optimistis menjaga kinerja BCA tetap solid di tengah kondisi global yang dinamis melalui pengembangan berbagai lini bisnis secara prudent," tegas Hendra.
Dari sisi pendanaan, BCA tetap kokoh dengan total Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp 1.292,4 triliun. Kekuatan dana murah atau CASA (Giro dan Tabungan) menjadi tulang punggung utama dengan nilai Rp 1.089 triliun, yang mendominasi sekitar 85,2% dari total DPK perusahaan. Hal ini memberikan fleksibilitas bagi bank dalam mengelola biaya dana secara efisien.
Selain kinerja finansial, BCA juga terus memperkuat aspek keberlanjutan melalui penyaluran kredit ESG yang tumbuh 10% menjadi Rp 258,4 triliun. Angka ini mencakup porsi 26% dari total portofolio pembiayaan bank, termasuk di dalamnya pembiayaan untuk sektor energi baru terbarukan (EBT) yang melonjak signifikan sebesar 53,5% secara tahunan.
Sebagai penutup, inovasi digital melalui aplikasi myBCA dan portal bisnis "Ocean by BCA" menjadi strategi perseroan dalam meningkatkan pengalaman nasabah. Dengan sertifikasi ISO terbaru di bidang Privasi Data dan Kecerdasan Buatan (AI), BCA memantapkan posisinya sebagai pionir perbankan digital yang aman di Asia Tenggara, sembari tetap menjalankan program bakti sosial dan lingkungan bagi masyarakat luas.
“Kami juga meluncurkan Ocean by BCA, sebuah portal bisnis digital terintegrasi untuk membantu pelaku usaha mengelola kebutuhan bisnis secara lebih mudah dan efisien. Ocean by BCA memungkinkan pelaku usaha mengakses dasbor bisnis terintegrasi, rekomendasi solusi dan akses langsung ke e-channel, serta help center dari satu platform. Kami turut menggandeng sejumlah mitra strategis, dengan harapan Ocean by BCA dapat membantu pelaku usaha mengelola bisnis mereka secara lebih efisien dan membuka peluang ekspansi usaha,” kata Hendra.

