Sirkularitas Global Terus Menurun, TPA di Indonesia Terancam Penuh 2 Tahun Lagi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) menyebutkan dunia saat ini sedang mengalami tiga krisis planet utama, yakni perubahan iklim yang ekstrim, polusi dan limbah hingga hilangnya keanekaragaman hayati.
Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Bappenas Leonardo Teguh Sambodo mengatakan, banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk mengantisipasi kerusakan lingkungan. Apalagi, data menunjukan penggunaan sumber daya alam global meningkat 65% dalam dua dekade terakhir.
"Namun tingkat sirkularitas, bagaimana kita menggunakan kembali, memanfaatkan kembali dari sumber daya alam secara global, justru menurun dari 8,6% pada tahun 2020 menjadi hanya 6,9% pada tahun 2024," ucap Leonardo pada AHConnect di Kantor Antara Heritage, Jakarta, Selasa (23/12/2025).
Di tingkat regional, ASEAN sangat krusial karena kontribusinya pada lebih dari separuh kebocoran plastik ke lautan setiap tahunnya. Disampaikan Leonardo, 6 dari 10 negara anggota ASEAN termasuk Indonesia masuk dalam daftar pencemar plastik laut dunia.
Baca Juga
"Infrastruktur manajemen sampah di ASEAN sendiri belum mampu mengimbangi pesatnya urbanisasi yang berkontribusi juga pada pencemaran plastik. Saat ini lebih dari 50% sampah di ASEAN tidak terangkut dan hanya kurang dari seperempatnya berhasil didaur ulang," terangnya.
Indonesia pun menghadapi tantangan luar biasa terkait timbunan sampah, yang menurut Leonardo diproyeksikan bisa mencapai lebih dari 82 juta ton per tahun.
"Pada tahun 2045, kalau kita melakukan business as usual. jika kita tidak melakukan intervensi yang radikal, maka tempat pemrosesan akhir atau TPA di berbagai daerah bisa penuh total pada tahun 2028, dua tahun lagi. Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan manajemen sampah di hilir atau sekedar kumpul, angkut, buang," papar Leonardo.
Untuk mengatasi hal tersebut, ekonomi sirkular menjadi salah satu solusi. Ekonomi sirkular merupakan model ekonomi yang meminimalkan penggunaan sumber daya sejak awal, dan memastikan sisa konsumsi dapat kembali ke dalam rantai nilai tersebut.
"Ekonomi sirkular telah diakui mampu mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 40% sampai 49%. Dan bagi Indonesia, ini bukan sekedar isu lingkungan tapi juga isu ekonomi dan membuka peluang yang lebih besar bagi masyarakat melihat ada sumber ekonomi baru, tapi pada saat yang sama masyarakat diajak untuk berkontribusi menangani isu-isu lingkungan," bebernya.

