Indonesia Hasilkan 70 Juta Ton Sampah per Tahun, Kapasitas TPA Menipis
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Sekretaris Direktorat Jenderal (Sesditjen) Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Dian Irawati menyampaikan, volume sampah di Indonesia terus meningkat hingga 70 juta ton pada 2023 dan berpotensi menekan kapasitas tempat pembuangan akhir (TPA).
“Pada 2021, data menunjukkan kota-kota di Indonesia menghasilkan sampah sekitar 68,5 juta ton, dan meningkat hampir 70 juta ton pada 2023. Pada 2024, masih diproyeksikan sekitar 58 juta ton,” kata Dian dalam acara "Women's Talk: Kelola Sampah dari Rumah" di kantor Kementerian PU, Jakarta Selatan, Senin (13/10/2025).
Ia menambahkan, lebih separuh total sampah tersebut berasal dari rumah tangga. “Sebagian besar sampah masih berakhir di tempat pembuangan akhir yang kini banyak mengalami kelebihan kapasitas,” tutur Dian.
Baca Juga
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (IPK) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebelumnnya mendorong percepatan penerapan teknologi waste to energy sebagai solusi pengelolaan sampah di kota-kota besar yang setiap hari menghasilkan ribuan ton limbah.
Menurutnya, Kota Jakarta memproduksi 7.000 – 8.000 ton sampah per hari, sedangkan kota besar lain, seperti Surabaya, Medan, dan Bandung menghasilkan sekitar 1.000 – 1.500 ton per hari. Volume sampah yang tinggi tersebut, kata AHY, menuntut sistem pengelolaan menyeluruh dari hulu ke hilir.
“Penanganan sampah tidak bisa terjebak pada satu fase. Semua tahap, dari pengurangan, pemilahan, hingga pengolahan, harus berjalan beriringan,” kata AHY saat konferensi pers acara Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2025 di Jakarta, Jumat (10/10/2025).
Ia menjelaskan, pengurangan sampah perlu dimulai dari sumbernya, baik rumah tangga maupun industri, perlu dilakukan melalui edukasi, sosialisasi, dan penegakan aturan. Selain itu, pemilahan di titik pengumpulan dapat melibatkan masyarakat untuk menggerakkan perputaran ekonomi. “Beberapa daerah sudah berhasil mengembangkan circular economy dengan melibatkan masyarakat, terutama ibu-ibu rumah tangga, yang mendapatkan penghasilan tambahan,” tutur AHY.
Kemenko IPK, melalui Kementerian PU, akan terus mengawal pengembangan fasilitas pengolahan sampah di berbagai daerah. Ketua Umum Partai Demokrat itu pun menekankan pentingnya sinergi kebijakan lintas kementerian dan pemerintah daerah agar proyek-proyek pengolahan sampah dapat berjalan optimal. “Kami akan kawal agar para gubernur, bupati, dan walikota memiliki visi dan kebijakan yang sejalan,” kata AHY.
Baca Juga
Patriot Bond Danantara Serap Rp50 Triliun, Bakal Suntik Proyek Pengelolaan Sampah
AHY juga menyoroti pentingnya pembiayaan sebagai faktor penentu keberhasilan proyek waste to energy. Skema kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU) disebut menjadi salah satu opsi yang dapat mempercepat pembangunan dan penerapan teknologi tersebut. “Kalau tidak ada pendanaan, sampai kapan pun teknologi yang mumpuni tidak akan hadir,” ucapnya.
Sebelumnya, CEO Danantara Indonesia Rosan Perkasa Roeslani, mengungkap dalam waktu dekat pihaknya akan meluncurkan proyek waste to energy atau pengelolaan sampah menjadi listrik. Ia mengatakan proyek itu akan diluncurkan di 33 kota seluruh Indonesia.
Dari total 33 kota tersebut, Danantara telah mengantongi 10 kota prioritas, yang direkomendasikan berdasarkan asesmen Kementerian Lingkungan Hidup (LH). 10 kota tersebut, antara lain Tangerang, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Bali, Makassar, dan lainnya.

