ESG Jadi Pilar Daya Saing Global Menuju Indonesia Emas 2045
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Chief Executive Officer (CEO) Investortrust Primus Dorimulu menegaskan pentingnya kepemimpinan dalam mendorong transformasi Indonesia menuju pembangunan berkelanjutan.
Hal itu diungkapkan Primus dalam acara ESG Award 2025 yang bertajuk “Leadership for a Sustainable Indonesia: Towards Net Zero Commitment & Green Economy” di Hotel Ritz Carlton, Mega Kuningan, Jakarta, Kamis (23/10/2025).
"Leadership di sini bukan hanya menyangkut pemerintah, tapi juga para pelaku usaha, lembaga keuangan, investor, akademisi, dan komunitas, yang semuanya harus bersama-sama, bergerak bersama-sama menegapkan prinsip ESG, environmental, social, and government," ujar Primus.
Primus menjelaskan, kepemimpinan yang dimaksudkan adalah kepemimpinan yang visioner, berintegritas, dan kolaboratif. Menurut Primus, hal itu adalah kunci agar Indonesia tidak hanya tumbuh secara ekonomi, yaitu bertumbuh inklusif 8%, tapi juga selaras dengan agenda global Net Zero Emission 2060 yang sudah ditanda tangani dan sudah menjadi komitmen Indonesia.
"Dan ini semua penting kita dukung guna mewujudkan green economy," ungkap Primus.
Foto: Investortrust/Elsid Arendra
Lebih lanjut, Primus menyebut, environmental leadership penting sekali dalam mendorong perusahaan mengelola sumber daya alam secara efisien, menekan emisi karbon, mengadopsi energi terbarukan, serta mengembangkan teknologi ramah lingkungan. Kedua adalah social leadership, yakni menegakkan inklusivitas, kesejahteraan pekerja, pemberdayaan masyarakat lokal, serta memastikan dampak sosial yang positif bagi ekosistem bisnis dan komunitas.
"Ketiga, governance leadership, yakni menegakkan tata kelola yang transparan, akuntabel, serta bebas dari praktik korupsi, sekaligus menanamkan etika dan integritas dalam seluruh proses bisnis," kata Primus.
Di sisi lain, Primus membeberkan bahwa Indonesia saat ini berada pada titik kritis. Menurut Primus, Indonesia di satu sisi memiliki kekayaan sumber daya alam yang besar, di sisi lain menghadapi tantangan emisi, deforestasi, dan ketimpangan sosial.
"ESG menjadi jembatan agar pembangunan nasional tetap kompetitif secara global namun berkelanjutan secara jangka panjang. Dengan adopsi ESG, Indonesia dapat menarik investasi hijau, memperkuat daya saing industri, serta mendukung agenda Indonesia Emas 2045," jelas Primus.
Sejalan dengan hal tersebut, Primus membeberkan bahwa perusahaan yang berhasil memimpin dalam implementasi ESG akan meraih kepercayaan pasar, akses modal yang lebih besar, dan reputasi yang lebih kuat.
"Pada akhirnya, ESG Awards 2025 menjadi panggung apresiasi bagi mereka yang membuktikan bahwa kepemimpinan sejati adalah kepemimpinan yang menyeimbangkan keuntungan, manusia, dan bumi," ucap Primus.
Foto: Investortrust/Elsid Arendra
Primus menambahkan, nilai total aset ESG dunia yang meningkat dari US$ 22,8 triliun pada tahun 2016 bergerak ke US$ 41 triliun pada tahun 2022. Dikatakan ia, angka ini diproyeksikan mencapai US$ 50 triliun pada tahun ini.
"Kemudian kita melihat pelaporan keberlanjutan perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia ada 955 listed company yang merilis laporan keberlanjutan sudah mencapai 873," katanya.
Menutup sambutannya, Primus menyampaikan bahwa tantangan ke depan, pemerintah terutama OJK, Bursa Efek Indonesia, semua kementerian terutama Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian adalah bagaimana agar carbon tax, carbon credit, carbon exchange, dan carbon capture benar-benar bisa diimplementasi di Indonesia.
"Dan kita negara yang memiliki hutan bisa mendapatkan uang dari carbon credit," pungkas Primus.
Foto: Investortrust/Elsid Arendra

