Gunung Raja Paksi (GGRP) Perkuat Upaya Keberlanjutan Industri Baja Global
JAKARTA, investortrust.id – PT Gunung Raja Paksi Tbk (GGRP) atau GRP memperkuat upaya keberlanjutan industri baja global dengan menjadi tuan rumah pertemuan ke-19 Environment Committee (ECO) dari World Steel Association yang diselenggarakan di Jakarta, pada 24–26 Februari 2025.
Chief Transformation Officer GRP Kelvin Fu mengatakan, acara ini mempertemukan para pemimpin industri baja dunia, perwakilan pemerintah, dan para ahli lingkungan, sekaligus menjadi wadah berdiskusi mengenai keberlanjutan, tantangan lingkungan, dan kemajuan teknologi di sektor baja. "Pertemuan ini menegaskan kembali komitmen industri baja global terhadap masa depan rendah karbon," kata dia dalam keterangannya, Senin (10/3/2025).
Baca Juga
Trump Terapkan Tarif 25% Baja dan Aluminium, Saham Eropa Masih Terus Menguat
Dengan menjadi tuan rumah pertemuan ke-19 worldsteel ECO, GRP memperkuat kepemimpinannya dalam mendorong upaya dekarbonisasi industri baja di Asia Tenggara, serta membuktikan bahwa sektor baja berkelanjutan dapat dicapai melalui kolaborasi, inovasi, dan komitmen bersama industri.
Delegasi worldsteel ECO dipimpin oleh José Fonrouge, selaku senior sustainability global director di Ternium sekaligus chairman worldsteel ECO, didampingi Head of Environment and Climate Change di worldsteel Åsa Ekdahl, serta Manager of Environment and Climate Change di worldsteel Felipe Maciel.
Kelvin Fu mengatakan, perjalanan menuju transformasi lingkungan tidak bisa ditempuh sendiri. Kemitraan dengan worldsteel penting bagi GRP, terutama melalui program, seperti StepUp, yang telah membekali GRP dengan alat dan pengetahuan untuk menghadapi kompleksitas produksi baja berkelanjutan.
"Kami menghargai kesempatan belajar dari para pemimpin terbaik di industri ini. Komitmen worldsteel terhadap inovasi memperkuat semangat kami menjalani transisi menuju masa depan rendah karbon, sekaligus membuktikan bahwa pemain baru dapat menjadi contoh menuju keberlanjutan lingkungan,” ujar Kelvin.
Pertemuan ini juga menghadirkan serangkaian presentasi dan diskusi panel yang informatif dari pejabat pemerintah, pemimpin industri, dan pakar global, yang membahas berbagai aspek penting, seperti dekarbonisasi industri, teknologi pengurangan karbon, hingga kerangka regulasi.
Baca Juga
Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri Kementerian Perindustrian Andi Rizaldi, memaparkan kebijakan pemerintah dalam mendukung transisi hijau, termasuk insentif finansial bagi perusahaan yang mengadopsi teknologi rendah karbon, kerangka regulasi untuk mendorong manufaktur berkelanjutan, serta peran penting standar industri hijau Indonesia dalam mendorong praktik produksi yang bertanggung jawab.
Sementara itu, Direktur Eksekutif IISIA Harry Warganegara membahas tantangan dan peluang dalam produksi baja rendah karbon di Indonesia. Ia menekankan, transisi menuju teknologi electric arc furnace (EAF) merupakan peluang besar bagi Indonesia untuk mengurangi emisi sekaligus memenuhi permintaan baja domestik dan internasional.

