RI akan Bangun Pembangkit Listrik Rp 3.710 Triliun, IESR Minta Ini Dipertimbangkan
JAKARTA, investortrust.id - Pemerintah Indonesia berencana membangun 100 gigawatt (GW) pembangkit listrik dengan 75% kapasitas dari energi baru terbarukan (EBT), hingga 2040. Pembangunan itu membutuhkan investasi US$ 235 miliar atau Rp 3.710 triliun (kurs Rp 15.790/US$).
Rencana tersebut disampaikan oleh Ketua Delegasi RI untuk Konferensi Perubahan Iklim PBB/Conference of the Parties (COP) Ke-29 Hashim Djojohadikusumo di Baku, Azerbaijan, Selasa (12/11/2024). Menanggapi hal ini, Institute for Essential Services Reform (IESR) menyambut baik rencana pembangunan 75 GW pembangkit energi terbarukan oleh PT PLN, sebagai bagian dari komitmen Indonesia mencapai target dekarbonisasi 2060.
Baca Juga
Kendati demikian, IESR mendorong Indonesia untuk fokus mengembangkan energi terbarukan dengan pilihan biaya yang paling murah, dan dengan keandalan pasokan yang optimal serta teknologi yang andal. “Rencana pemerintah Indonesia untuk mengembangkan energi nuklir misalnya, harus memperhatikan kesiapan institusi, kesiapan dan kehandalan teknologi, serta biaya investasi, biaya sosial, dan risiko lainnya,” kata Manajer Program Sistem Transformasi Energi IESR Deon Arinaldo, Kamis (14/11/2024).
Andalkan Energi Surya
Deon memaparkan, berdasarkan perhitungan IESR, dengan elektrifikasi yang masif dan akselerasi energi terbarukan yang lebih cepat dibangun, murah, dan rendah risiko keterlambatan, Indonesia bisa membangun 120 GW EBT hingga 2030 mengandalkan energi surya dan angin. “Kapasitas tersebut dapat membawa bauran energi terbarukan mencapai lebih dari sepertiga bauran ketenagalistrikan Indonesia, mencapai puncak emisi sebelum 2030, dan memudahkan mencapai nol emisi sektor ketenagalistrikan dengan 100% energi terbarukan pada 2045,” ujar dia.
Baca Juga
IESR mendorong agar pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto memiliki pengaruh kuat untuk menyusun strategi transisi energi yang lebih komprehensif. Strategi ini tidak hanya sekadar menyampaikan target besar.
“Strategi ini tidak hanya sekadar menyampaikan target besar. Tetapi, juga mencakup reformasi kebijakan dan kelembagaan untuk memastikan PLN dan pihak terkait mampu memenuhi target energi terbarukan yang telah ditetapkan,” ujar Deon.

