Kementerian ESDM Ungkap Tantangan Implementasi CCS/CCUS
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif, tidak memungkiri pengimplementasian teknologi Carbon Capture and Storage / Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCS/CCUS) masih menemui tantangan. Salah satunya adalah soal harga yang masih mahal.
“Rencana implementasi CCS/CCUS sekarang masih mahal, tapi memang harus kita coba. sesuatu kalau baru dicoba kan memang mahal," kata Arifin Tasrif di Kantor Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Jakarta, pada akhir pekan lalu.
Arifin menyebut, teknologi CCS/CCUS ini sebetulnya diharapkan dapat memainkan peran kunci dalam menekan jejak karbon negara yang dikenal sebagai salah satu penghasil emisi terbesar di dunia.
Dengan memanfaatkan CCS/CCUS, Indonesia berkomitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari sektor industri dan energi, sekaligus mendukung transisi menuju energi bersih.
Baca Juga
Langkah ini merupakan bagian dari strategi nasional untuk memenuhi komitmen dalam Perjanjian Paris dan memitigasi dampak perubahan iklim secara lebih efektif.
“Nah ini mengenai CCS, Permen-nya lagi kita dorong, dalam waktu dekat. Karena kita yang paling cepat dalam mengeluarkan peraturan mengenai CCS/CCUS, Malaysia saja belum. September baru mereka akan mulai, kita sudah duluan enam bulan,” terang Arifin Tasrif.
Lebih lanjut Arifin Tasrif menjelaskan bahwa Indonesia memiliki 15 proyek CCS/CCUS yang masih dalam tahap studi/persiapan yang tersebar dari Barat hingga Timur Indonesia.
Ke-15 proyek tersebut terdiri dari proyek Tangguh EGR/CCUS, Abadi CCS, Sukowati CCUS/EOR, Gundih CCUS/EGR, Pilot Test CO2 Huff and Puff Jatibarang, Ramba CCUS/EOR, CO2 Huff and Puff Gemah, Sakakemang CCS, Arun CCS, Central Sumatera Basin CCS/CCUS Hubs, Kutai Basin CCS Hub, Asri Basin CCS/CCUS Hubs, CCU to Methanol RU V Balikpapan, East Kalimantan CCS/CCUS Study, dan Blue Ammonia + CCS Donggi Matindok.
Baca Juga
Dalam paparannya, Arifin menyebut biaya untuk menginjeksikan per ton CO2 pada proyek penyimpanan CO2 akan memakan biaya yang tidak sedikit. Di antaranya adalah sebagai berikut, pertama Pemurnian Gas Alam, Gundih Jawa Timur dengan biaya USD43-53/ton CO2, dengan total 0,3 juta ton CO2 per tahun, investasi injeksi US$ 105 juta.
Selanjutnya Produksi LNG Bintuni, Papua Barat, US$ 33/ton CO2. Total 2,5-3,3 juta ton CO2 per tahun, Investasi injeksi sebesar US$ 948 juta. Kemudian Produksi LNG di Masela, NTT, US$ 26/ton CO2, total 3,5 juta ton CO2 per tahun, investasi injeksi sebesar US$ 1,4 miliar. Terakhir ialah Gasifikasi batu bara menjadi DME, Tanjung Enim Sumatera Selatan, US$ 50-55/ton CO2, total 3 juta ton CO2 per tahun dan investasi injeksi mencapai US$ 1,6 miliar.

