Energi Bersih Hidupkan Sawah Bali, Petani Raup Rp 585 Juta Per Tahun
Poin Penting
|
DENPASAR, Investortrust.id - Pemanfaatan energi surya dan mikrohidro membantu 185 petani di kawasan Subak Sembung, Denpasar Utara, Bali, meningkatkan efisiensi pengairan dan kegiatan pertanian melalui teknologi irigasi berbasis sensor. Program yang dikembangkan PT Pertamina (Persero), tersebut juga mendorong pengembangan wisata persawahan dan menghasilkan pendapatan Rp 585 juta per tahun bagi masyarakat setempat.
Ketersediaan air selama musim kemarau bagi petani di kawasan Uma Palak Lestari menjadi salah satu tantangan utama dalam menjaga produktivitas sawah. Kondisi tersebut mulai berubah setelah mereka memanfaatkan Sistem Suplai Energi Manajemen Irigasi Uma Palak (SIUMA), teknologi yang menggabungkan pembangkit listrik tenaga mikrohidro dan panel surya.
Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Uma Palak Lestari Wayan Sukadana mengatakan teknologi tersebut membantu petani mengetahui kebutuhan air setiap lahan melalui sensor kelembapan tanah.
Baca Juga
Pertamina Dorong Kolaborasi Kawasan Perkuat Hulu Migas di ASCOPE Ke-51
“Sebelum ada SIUMA, kami sering mengalami keterbatasan pasokan air untuk mengairi sawah, terutama saat musim kemarau. Sekarang, dengan adanya teknologi sensor kelembaban tanah yang didukung listrik dari mikrohidro, kami dapat mengetahui lahan mana yang membutuhkan air dan mana yang sudah cukup. Dengan begitu, penggunaan air menjadi lebih tepat sasaran, efisien, dan tidak terbuang sia-sia,” ungkap Wayan Sukadana (47) dikutip Jumat (30/10/2026).
Sistem SIUMA memanfaatkan aliran sungai melalui kincir air untuk menghasilkan listrik, kemudian mengintegrasikannya dengan panel surya. Energi yang dihasilkan digunakan untuk mendukung pengairan sawah, kegiatan usaha tani, serta penerangan di kawasan persawahan seluas 10,26 hektare.
Pekaseh atau Ketua Subak Sembung I Made Darayasa (62) turut merasakan perubahan tersebut. Teknologi energi terbarukan membantu petani mengelola kebutuhan air sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi konvensional yang menambah biaya operasional.
Perubahan juga terlihat pada penggunaan alat pertanian. Petani yang sebelumnya mengandalkan traktor berbahan bakar diesel mulai menggunakan traktor listrik berbaterai. Mereka dapat mengisi ulang baterai menggunakan listrik yang dihasilkan dari panel surya dan mikrohidro tanpa harus mengeluarkan biaya tambahan untuk listrik dari jaringan umum.
Dukungan teknologi tersebut kemudian diperluas hingga tahap pengolahan hasil panen. Dalam rangkaian kunjungan delegasi ASEAN Council on Petroleum (Ascope), Pertamina menyerahkan bantuan mesin penggiling padi elektrik kepada kelompok tani Uma Palak Lestari.
Mesin tersebut memiliki kapasitas pengolahan hingga 200 kilogram padi per jam. Kehadirannya diharapkan membantu petani mempercepat proses pengolahan gabah menjadi beras sekaligus meningkatkan efisiensi kegiatan pascapanen.
Bantuan tersebut juga membuka peluang bagi kelompok tani untuk memperoleh nilai tambah dari hasil pertanian. Petani tidak hanya mengelola proses produksi dan pengairan, tetapi juga memiliki dukungan peralatan untuk mengolah hasil panen secara lebih mandiri.
Pertanian Terintegrasi dengan Pariwisata
Pengembangan energi terbarukan di Uma Palak Lestari berjalan beriringan dengan penguatan kegiatan ekonomi masyarakat. Saat ini, aktivitas pertanian di Subak Sembung dikelola oleh 185 petani dan memberikan dampak ekonomi langsung kepada lebih dari 400 warga sekitar. Melalui pengembangan usaha pertanian dan pariwisata, kelompok usaha bersama dan petani lokal mampu menghasilkan pendapatan lebih dari Rp 585 juta per tahun.
Salah satu komoditas yang dikembangkan adalah beras Mentik Susu. Varietas beras premium tersebut memiliki nilai jual lebih tinggi di segmen pasar tertentu karena dikenal memiliki indeks glikemik relatif rendah dan kandungan serat yang tinggi.
Selain pertanian, kawasan Subak Sembung juga berkembang menjadi ruang aktivitas masyarakat dan destinasi wisata. Jalur joging sepanjang 2,4 kilometer yang membentang di tengah persawahan menjadi salah satu daya tarik bagi warga maupun wisatawan.
Untuk mendukung aktivitas masyarakat, pengelola telah memasang 43 titik lampu penerangan otomatis yang memperoleh pasokan energi dari SIUMA. Fasilitas tersebut memungkinkan masyarakat menggunakan jalur persawahan hingga malam hari.
Kegiatan ekonomi di kawasan tersebut tidak hanya berasal dari hasil panen. Warga juga memperoleh peluang pendapatan melalui aktivitas wisata, termasuk penjualan sayuran segar langsung dari petani kepada pengunjung.
Model pengembangan tersebut menarik perhatian delegasi Ascope yang mengunjungi Desa Energi Berdikari (DEB) Uma Palak Lestari. Dalam kunjungan tersebut, delegasi melihat pemanfaatan energi bersih yang terhubung langsung dengan kegiatan pertanian dan pengembangan ekonomi masyarakat.
Program Uma Palak Lestari merupakan bagian dari inisiatif DEB yang dikembangkan Pertamina. Program ini mendorong masyarakat memanfaatkan sumber energi terbarukan sesuai dengan potensi wilayah dan kebutuhan kegiatan ekonomi setempat.
Corporate Secretary PT Pertamina (Persero) Arya Dwi Paramita mengatakan model pemberdayaan masyarakat di Uma Palak Lestari mendapatkan respons positif dari delegasi ASCOPE. Sejumlah delegasi bahkan tertarik mempelajari konsep pengelolaan dan potensi ekonomi yang dihasilkan petani.
Baca Juga
Prabowo Teken Perpres 107/2026 Ubah Skema Pengadaan Energi, Pertamina Beli dari BLU
“Dari testimoni para delegasi, mereka menyampaikan belum pernah melihat model pengelolaan community involvement and development seperti ini sebelumnya. Bahkan, delegasi dari Timor Leste secara khusus menanyakan konsep detail dan potensi pendapatan petani untuk dipelajari,” ujar Arya.
Menurut Arya, ketertarikan tersebut menunjukkan adanya peluang bagi model pemberdayaan masyarakat berbasis energi terbarukan untuk dipelajari oleh perusahaan energi di negara-negara lain.
Secara nasional, Pertamina telah mengembangkan 310 titik Desa Energi Berdikari yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 62 desa telah mencapai tahap mandiri setelah menjalani pendampingan selama sekitar 3 hingga 5 tahun.
