Danantara Buka Tender Proyek Energi Sampah di 25 Kota Bulan Ini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) tancap gas dalam mempercepat infrastruktur hijau di tanah air. Bulan ini, Danantara dijadwalkan akan membuka tender proyek Waste to Energy (WtE) atau Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) gelombang kedua yang mencakup 25 kota di seluruh Indonesia.
Ekspansi besar-besaran ini menyusul kesuksesan tender gelombang pertama yang sebelumnya difokuskan pada wilayah Bogor, Denpasar, dan Bekasi.
Managing Director Stakeholder Management and Communications Danantara, Rohan Hafas, mengungkapkan bahwa lonjakan jumlah kota pada batch kedua ini merupakan respons atas tingginya antusiasme pemerintah daerah (pemda) untuk memodernisasi pengelolaan sampah mereka.
"Ada 25 kota di batch kedua. Jadi hampir semua ibu kota provinsi akan mendapatkan fasilitas pengolahan sampah," ujar Rohan dalam acara Afternoon Coffee Session di Wisma Danantara, Jakarta, Kamis (9/4/2026).
Terkait peta persaingan, Rohan menyebutkan bahwa perusahaan asal China masih memiliki peluang besar untuk mendominasi. Pada tahap pertama, seluruh pemenang tender memang berasal dari Negeri Tirai Bambu, yakni Zhejiang Weiming, pemenang proyek di Bogor dan Denpasar. Kemudian ada Wangneng Environment Co., Ltd, sebagai pemenang proyek di Kota Bekasi.
Meski minat daerah sangat tinggi, Danantara menegaskan bahwa tidak semua kota bisa langsung mendapatkan kucuran investasi ini. Terdapat kriteria teknis dan administratif yang wajib dipenuhi oleh pemerintah daerah.
Baca Juga
Dukung Program Waste to Energy, VKTR Siapkan Truk Sampah Listrik di IKN dan Jakarta
Director of Investment Danantara Investment Management (DIM), Fadli Rahman, menjelaskan bahwa ambang batas (threshold) volume sampah merupakan syarat mutlak.
"Proyek PSEL hanya dapat dilakukan di wilayah dengan volume sampah minimal 1.000 ton per hari. Pemda-nya harus siap, lokasinya pun harus sesuai dengan regulasi yang ada," tegas Fadli.
Selain volume sampah, Fadli menambahkan bahwa setiap proyek harus melewati uji kelayakan yang komprehensif. Danantara memberlakukan standar tinggi yang mencakup aspek teknis, manajemen risiko, serta komersial dan finansial.
"Harus lulus semua. Teknis, komersial, finansial, hingga manajemen risiko harus hijau, barulah kami masuk untuk melakukan modifikasi asli investasi tersebut," lanjutnya.
Sebagai gambaran, skala investasi untuk proyek PSEL ini tidaklah kecil. Setiap titik proyek diperkirakan menelan biaya investasi berkisar antara Rp2,5 triliun hingga Rp2,8 triliun. Dengan dibukanya tender untuk 25 kota, proyek ini diharapkan menjadi katalis bagi ekonomi sirkular sekaligus solusi konkret permasalahan sampah di kota-kota besar Indonesia.

