Mudik Lebaran 2026 Dorong Konsumsi dan Tingkatkan Perputaran Uang di Daerah
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Momentum arus mudik Lebaran 2026 menjadi salah satu pendorong utama aktivitas ekonomi nasional. Peningkatan mobilitas masyarakat selama periode tersebut tidak hanya mendorong konsumsi rumah tangga, tetapi juga meningkatkan perputaran uang di berbagai daerah sehingga memberikan dampak ekonomi yang lebih merata.
Sejalan dengan hal tersebut, sejumlah pelaku usaha dan asosiasi memperkirakan bahwa arus mudik menjadi motor penting bagi pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2026.
Perputaran uang selama mudik diperkirakan mencapai sekitar Rp148 triliun dan meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Selain itu, konsumsi masyarakat selama periode Lebaran 2026 diperkirakan tumbuh sekitar 10% hingga 15%, sehingga berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi nasional pada kisaran 5,4% hingga 5,5% pada kuartal pertama tahun 2026.
Baca Juga
Sebanyak 10,9 Juta Pemudik Gunakan Angkutan Umum, Naik 8,58%
“Momentum Ramadan dan Lebaran menjadi motor penggerak konsumsi rumah tangga yang sangat signifikan. Mandiri Spending Index weekly terbaru juga mengonfirmasi adanya peningkatan konsumsi masyarakat dengan tren yang terus meningkat (terbaru di angka 123,5). Pemerintah juga melihat bahwa peningkatan peredaran uang selama arus mudik dan balik telah memberikan suntikan likuiditas langsung ke daerah-daerah,” ujar Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto di Jakarta, Jumat (27/03).
Dengan kuatnya konsumsi selama periode tersebut, Pemerintah memandang bahwa aktivitas ekonomi di sektor riil akan semakin meningkat, termasuk melalui penguatan produksi dan distribusi. Kondisi ini diharapkan dapat mendorong peningkatan utilisasi kapasitas industri serta penyerapan tenaga kerja di berbagai sektor.
“Kami optimistis dunia usaha akan mulai melakukan ekspansi. Harapannya banyak pelaku usaha yang mulai meningkatkan utilitas mesin dan tenaga kerja untuk mengisi kembali stok (restocking) produk yang terserap selama Ramadan dan Lebaran,” ujar Jubir Haryo.
Di sisi kebijakan, Pemerintah juga terus melakukan penajaman anggaran agar lebih efektif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga stabilitas di tengah dinamika global.
“Terkait efisiensi, kebijakan ini masih dalam tahap pembahasan intens. Namun, target pemerintah bukan sekedar menghemat tetapi menajamkan anggaran agar tersalurkan secara efektif. Pemerintah memastikan APBN akan tetap menjadi shock absorber di tengah ketidakpastian global,” pungkas Jubir Haryo.
Pemerintah optimistis bahwa momentum mudik Lebaran, didukung oleh konsumsi masyarakat yang kuat serta respons dunia usaha, akan terus menjaga pertumbuhan ekonomi nasional tetap terjaga dan berkelanjutan.

