Ekspor Seafood RI Perkasa di Tengah Gejolak Global, AS Jadi Pasar Utama
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyebutkan, tren ekspor produk perikanan Indonesia masih kuat dan mengalami peningkatan di tengah terjadinya gejolak geopolitik global dan perdagangan dunia. Berdasarkan data pada 2025, nilai ekspor produk perikanan Indonesia ke AS tercatat sebesar US$ 1,17 miliar.
Kemudian, sepanjang Januari 2026, ekspor produk perikanan ke AS tercatat sebesar US$ 107,32 juta atau naik sebanyak 14,84% dibanding periode sebelumnya. Dari nilai tersebut, ekspor utama produk perikanan Indonesia ke AS, yakni udang, tuna beku, filet ikan, tilapia, dan moluska.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Fajarini Puntodewi mengatakan, tingginya permintaan menunjukkan kepercayaan pasar terhadap kualitas, kesinambungan pasokan, serta kemampuan industri seafood Indonesia dalam memenuhi standar keamanan pangan, keberlanjutan, dan ketertelusuran.
“Hal ini menunjukkan kepercayaan pasar terhadap kualitas, keberlanjutan, dan daya saing seafood Indonesia,” ujar Fajarini dalam keterangan tertulisnya, Kamis (26/3/2026).
Dengan tren tersebut, Paviliun Indonesia menggelar seminar bertajuk “Indonesia in Dialogue: A Tuna Case Study Toward Sustainable and Traceable Seafood” pada hari kedua pameran Seafood Expo North America (SENA) 2026 di Boston, Amerika Serikat. Melalui seminar ini, Indonesia membedah strategi penguatan ekspor sektor perikanan di pasar global melalui aspek keberlanjutan (sustainability) dan ketertelusuran (traceability).
Seminar strategis ini digelar Kementerian Perdagangan (Kemendag) RI melalui Atase Perdagangan (Atdag) RI Washington D.C., Kedutaan Besar RI (KBRI) Washington D.C., berkolaborasi dengan Global Dialogue on Sustainable Traceability dan Tuna Consortium.
Menurut Atdag RI Washington D.C. Ranitya Kusumadewi, seminar ini digelar untuk menunjukkan upaya jangka panjang Indonesia dalam menjaga pangsa ekspor seafood Indonesia ke AS dan berbagai negara lainnya dengan mendukung prinsip keberlanjutan dan ketertelusuran.
"Prinsip keberlanjutan dan ketertelusuran menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas bisnis. Indonesia memperkuat tata kelola sektor perikanan melalui peningkatan sistem sertifikasi dan inspeksi, penguatan pengujian laboratorium, serta pengembangan sistem dokumentasi dan ketertelusuran di sepanjang rantai pasok," terangnya.
Baca Juga
Ekspor Perikanan RI Tembus Rp 16,7 Triliun Sejak Awal Tahun hingga Jelang Lebaran
Adapun, Staf Ahli Bidang Transformasi Digital dan Hubungan Antar Lembaga Kementerian Koordinator Bidang Pangan Bara Hasibuan mengungkapkan, sebagai produsen tuna terbesar di dunia dan pemasok utama ke pasar AS, Indonesia harus proaktif memitigasi tantangan perdagangan dunia, seperti implementasi Marine Mammal Protection Act dan peningkatan pengawasan keamanan pangan.
Oleh karena itu, menurut Bara, Indonesia perlu memastikan tiga hal penting, yakni keberlanjutan, keamanan pangan, dan ketertelusuran produk sebagai fondasi utama menjaga akses pasar dan kepercayaan buyer.
“Pemerintah berkomitmen untuk memperkuat tata kelola sektor perikanan sebagai langkah pencegahan masalah (precautionary) dan kebijakan tanpa toleransi pelanggaran (zero tolerance) terhadap produk yang tidak memenuhi standar internasional,” imbuh Bara.
Hadirnya Paviliun Indonesia pada SENA 2026 pada 15–17 Maret 2026 tersebut merupakan upaya nyata pemerintah untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai pemasok seafood global yang andal.
Pada hari kedua, di Boston Convention and Exhibition Center, AS, pengunjung Paviliun Indonesia meningkat karena disambangi lebih banyak buyer, importir, dan pelaku industri seafood global.

