Harga Emas Melemah, UBS Proyeksikan Naik 20% Hingga Akhir Tahun
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Bank investasi global UBS memperkirakan harga emas masih berpotensi naik hingga 20% sepanjang 2026 meski dalam beberapa pekan terakhir mengalami tekanan, seiring ketidakpastian makroekonomi dan kebijakan moneter global yang tetap mendukung peran emas sebagai aset lindung nilai.
UBS, bank investasi asal Swiss, menyampaikan proyeksi tersebut dalam catatan riset terbarunya, dengan menilai bahwa faktor fundamental yang mendorong reli emas masih kuat meski volatilitas meningkat akibat konflik geopolitik dan dinamika pasar keuangan.
Sejak aksi jual besar pada Januari, harga emas bergerak dalam kisaran US$ 4.600 hingga US$ 5.200 per ons. Harga sempat menguat saat Amerika Serikat memulai operasi militer di Iran, tetapi kemudian kembali melemah ke batas bawah kisaran tersebut dan bahkan sempat turun di bawahnya.
Baca Juga
Gejolak Timur Tengah Bayangi Harga Emas Dunia dan Logam Mulia, Ini Prediksi Pengamat
Dilansir Gold Eagle, Senin (23/3/2026), UBS mencatat bahwa pola ini bukan hal baru. Pada periode koreksi sebelumnya, emas juga bergerak mendatar selama beberapa bulan sebelum kembali menguat. Dalam konteks ini, perang dinilai hanya memberikan dorongan jangka pendek terhadap harga emas sebagai aset safe haven, sementara faktor utama tetap berasal dari kebijakan moneter, khususnya suku bunga riil.
Dalam catatannya, UBS menyebut emas belum mampu menembus level resistensi US$ 5.200 meski ketidakpastian geopolitik meningkat. Kondisi ini disebut sebagai kontras dengan kenaikan 65% tahun lalu, ketika meningkatnya risiko geopolitik berfungsi sebagai pendorong di tengah faktor fundamental, seperti suku bunga riil yang lebih rendah dan kekhawatiran utang.
Bank tersebut menilai bahwa dalam kondisi perang, investor cenderung menggunakan emas sebagai sumber likuiditas untuk mengelola volatilitas di pasar saham dan komoditas. Perilaku ini mencerminkan pola historis saat investor tidak hanya mencari perlindungan, tetapi juga fleksibilitas dalam pengelolaan portofolio.
UBS menguatkan pandangan ini dengan merujuk pada pengalaman konflik sebelumnya. Pada awal perang Rusia-Ukraina 2022, harga emas sempat naik 15%, tetapi kemudian turun 15%–18% setelah Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga. Pola serupa juga terjadi pada Perang Teluk dan Perang Irak, saat harga emas sempat melonjak 17% dan 19% sebelum kembali melemah seiring meredanya ketegangan.
Meski demikian, UBS tetap optimistis terhadap prospek emas. Bank tersebut memproyeksikan harga emas dapat mencapai kisaran US$ 5.900 hingga US$ 6.200 per ons pada akhir tahun.
“Mengingat ketidakpastian makroekonomi dan politik di luar risiko yang timbul dari konflik AS-Iran, kami terus memegang pandangan positif terhadap emas dan percaya bahwa logam mulia ini tetap menjadi diversifikasi portofolio yang efektif,” tulis UBS.
Permintaan investasi juga dinilai tetap kuat. Exchange trade fund (ETF) emas global mencatat penambahan 26 ton pada Februari, sehingga total kepemilikan mencapai rekor 4.171 ton. Hal ini menunjukkan minat investor terhadap emas masih tinggi meski harga bergerak dalam kisaran terbatas.
UBS menambahkan bahwa emas lebih berfungsi sebagai lindung nilai terhadap dampak ekonomi yang lebih luas dari konflik, seperti risiko moneter, pelemahan mata uang, meningkatnya defisit, dan perlambatan ekonomi. Faktor-faktor ini dinilai berpotensi menguat jika konflik geopolitik berlarut-larut.
Dalam jangka pendek, UBS memperingatkan bahwa tekanan terhadap harga emas masih mungkin terjadi. Namun, bank tersebut menilai bank sentral, khususnya Federal Reserve (The Fed), berada dalam dilema antara menahan suku bunga tinggi untuk mengendalikan inflasi atau melonggarkan kebijakan guna menjaga stabilitas ekonomi.
Dalam kondisi tersebut, UBS melihat peluang pelonggaran moneter lebih besar dibandingkan pengetatan lanjutan. Jika hal ini terjadi, maka likuiditas global berpotensi meningkat, yang secara historis menjadi faktor pendukung bagi kenaikan harga emas.
Baca Juga
Di sisi lain, dinamika pasar logam mulia juga dipengaruhi oleh perkembangan kebijakan di Amerika Serikat. Dua anggota Kongres mengajukan Rancangan Undang-Undang (RUU) Silver yang bertujuan memperluas lokasi penyimpanan logam mulia dan mengurangi risiko konsentrasi di wilayah New York.
Saat ini, fasilitas penyimpanan logam mulia di pasar berjangka sebagian besar terkonsentrasi di kawasan Greater New York City. Kondisi ini dinilai berpotensi menimbulkan risiko terhadap stabilitas pasar, keamanan, serta likuiditas jika terjadi gangguan di wilayah tersebut.
RUU tersebut mengusulkan peran Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas (CFTC) untuk meningkatkan transparansi dan mendorong distribusi fasilitas penyimpanan ke wilayah lain, termasuk Amerika Serikat bagian barat yang menjadi pusat aktivitas pertambangan dan pemurnian.
Pelaku industri menilai langkah ini dapat meningkatkan kapasitas penyimpanan, memperkuat likuiditas, serta menekan biaya bagi investor dengan membuka akses ke fasilitas yang lebih kompetitif.
Di pasar, harga emas dan perak melanjutkan tren penurunan dalam tiga pekan terakhir. Emas tercatat turun hampir US$ 500 atau sekitar 9,2% dalam sepekan menjadi US$ 4.567 per ons. Sementara itu, perak turun lebih dari US$ 11 dan berada di level US$ 69,96 per ons, mencatat penurunan mingguan sebesar 13,9%.
Untuk logam lainnya, platinum turun 2,7% menjadi US$ 1.970 per ons, sedangkan paladium melemah sekitar US$ 125 atau 8,1% ke level US$ 1.443 per ons.

