Tertekan Dolar dan Imbal Hasil Obligasi, Harga Emas Turun Tajam 2,5%
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas dunia turun lebih 2% pada Senin (9/3/2026) setelah penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan lonjakan biaya energi memicu kekhawatiran inflasi global serta mengurangi harapan penurunan suku bunga dalam waktu dekat.
Di pasar spot, harga emas turun 2,5% menjadi US$ 5.041,89 per ons atau sekitar Rp 78,4 juta per ons dengan asumsi kurs Rp 15.550 per dolar AS. Sementara kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman April melemah 2,1% menjadi US$ 5.049,40 per ons.
Dilansir Economic Times, tekanan pada emas terjadi ketika dolar AS bergerak di dekat level tertinggi dalam tiga bulan terakhir. Penguatan mata uang tersebut membuat emas yang diperdagangkan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain, sehingga menekan permintaan global.
Baca Juga
Harga Emas Antam (ANTM) Turun Makin Menjauh dari Rekor Rp 3,168 Juta
Selain itu, imbal hasil obligasi Pemerintah AS tenor 10 tahun juga naik ke level tertinggi hampir satu bulan. Kenaikan imbal hasil tersebut meningkatkan biaya peluang memegang emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi.
Kombinasi penguatan dolar dan kenaikan imbal hasil obligasi memperburuk sentimen pasar terhadap emas. Kekhawatiran inflasi yang dipicu lonjakan harga energi juga membuat investor memperkirakan bank sentral AS akan menahan suku bunga lebih lama.
Lonjakan harga minyak mentah menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kekhawatiran inflasi global. Harga minyak sempat melonjak hingga menembus US$ 100 per barel di tengah kekhawatiran pasokan yang lebih ketat serta gangguan berkepanjangan terhadap pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.
Kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan biaya produksi dan transportasi secara global, sehingga memperkuat tekanan inflasi. Kondisi tersebut dapat memaksa bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama untuk menjaga stabilitas harga.
Ekspektasi Kebijakan The Fed
Pelaku pasar memperkirakan bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga acuannya pada akhir pertemuan dua hari yang dijadwalkan selesai Selasa (18/3/2026).
Berdasarkan alat FedWatch milik CME Group, peluang suku bunga tetap stabil pada Juni meningkat menjadi lebih dari 51%. Sebelumnya, probabilitas tersebut berada di bawah 43% pada pekan lalu.
Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi dalam waktu lebih lama biasanya menjadi sentimen negatif bagi emas. Kondisi tersebut membuat investor cenderung memilih aset berbunga seperti obligasi dibandingkan logam mulia.
Baca Juga
Investor Berburu 'Safe Haven' karena Konflik Timur Tengah, Harga Emas Naik 1,6%
Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh data ketenagakerjaan terbaru dari AS. Data yang dirilis Jumat (7/3/2026) menunjukkan jumlah pekerjaan di sektor non-pertanian atau nonfarm payrolls turun 92.000 pekerjaan bulan lalu. Angka tersebut berbanding terbalik dengan perkiraan ekonom yang sebelumnya memprediksi kenaikan sekitar 59.000 pekerjaan. Sementara itu, tingkat pengangguran AS naik menjadi 4,4%.
Penurunan harga tidak hanya terjadi pada emas. Logam mulia lainnya juga mencatat pelemahan signifikan di pasar global. Harga perak spot turun 4% menjadi US$ 80,99 per ons atau sekitar Rp 1,25 juta per ons. Sementara itu, harga platinum turun 3,8% menjadi US$ 2.054,65 per ons, dan paladium melemah 2,1% menjadi US$ 1.590,32 per ons.

