Emas Anjlok 3,6% Saat Timur Tengah Makin Panas, Kok Bisa?
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas dunia melemah tajam pada Selasa (3/3/2026) setelah dolar Amerika Serikat (AS) menguat dan imbal hasil obligasi naik di tengah meningkatnya kekhawatiran inflasi akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Tekanan ini membuat harapan penurunan suku bunga kian memudar dan mendorong investor beralih ke likuiditas tunai, sehingga logam mulia terkoreksi meski risiko geopolitik meningkat.
Harga emas spot turun 3,6% menjadi US$ 5.137 per ons troi setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam lebih dari 4 minggu pada sesi sebelumnya. Emas berjangka AS ditutup 3,5% lebih rendah di US$ 5.123,70 per ons troi.
Ahli strategi pasar senior di RJO Futures, Bob Haberkorn, mengatakan penurunan emas dipicu perpindahan dana ke aset likuid. “Kita memiliki dolar yang kuat dan imbal hasil obligasi yang diperdagangkan lebih tinggi,” ujarnya dikutip CNBC.
Baca Juga
Harga Emas Melonjak Hampir 8% Sepanjang Februari, Ini Target Harga Berikutnya
Indeks dolar AS menguat signifikan sehingga membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Pada saat yang sama, imbal hasil obligasi Pemerintah AS naik untuk 2 sesi berturut-turut, meningkatkan daya tarik instrumen berbunga dibanding emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Meski demikian, Haberkorn menilai pelemahan ini berpotensi sementara. “Namun, penurunan harga ini kemungkinan hanya berlangsung singkat, dan arus perpindahan ke aset aman yang didorong risiko geopolitik seharusnya mendukung harga emas dan perak yang lebih tinggi,” katanya.
Konflik Timur Tengah
Di kawasan Timur Tengah, konflik yang melibatkan Iran memasuki hari keempat ketika ledakan mengguncang Teheran dan Beirut. Seorang pejabat senior Garda Revolusi Iran pada Senin (3/3/2026) mengatakan Selat Hormuz telah ditutup, memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global.
Penutupan jalur pelayaran strategis tersebut langsung mendorong harga minyak mentah melonjak lebih 8% pada Selasa. Selat Hormuz merupakan jalur utama distribusi minyak dunia yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global.
Analis pasar di City Index dan FOREX.com, Fawad Razaqzada, menjelaskan bahwa kerusakan infrastruktur energi dan gangguan lalu lintas kapal tanker meningkatkan risiko lonjakan harga energi yang berkepanjangan. Kondisi ini berpotensi memicu inflasi lebih tinggi dan menunda ekspektasi penurunan suku bunga bank sentral AS.
Baca Juga
Ia menambahkan bahwa situasi tersebut justru membatasi penguatan emas dalam jangka pendek karena pasar memperkirakan suku bunga akan bertahan lebih lama di level tinggi. Emas umumnya diuntungkan dalam lingkungan suku bunga rendah karena tidak menawarkan bunga atau dividen.
Sepanjang tahun ini, harga emas masih mencatat kenaikan sekitar 19%, didorong gejolak global. Pada 2025, logam mulia ini bahkan melonjak 64%, mencerminkan tingginya minat lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi dan politik.
Harga perak spot turut tertekan 6,6% menjadi US$ 83,50 per ons troi setelah sehari sebelumnya menyentuh level tertinggi lebih dari 4 minggu. Sepanjang 2026, perak masih menguat lebih dari 16%. Logam mulia lain juga melemah. Platinum turun 8,4% menjadi US$ 2.108,51 per ons troi, sementara paladium merosot 5,6% ke US$ 1.667,41 per ons troi.

