DEN Akui Gejolak Timur Tengah Picu Kenaikan Harga Minyak
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Septian Hario Seto menilai pergolakan di Timur Tengah masih menyisakan tingkat ketidakpastian (uncertainty) yang tinggi terhadap pergerakan harga minyak global.
Menurut Seto, perkembangan dalam satu pekan ke depan akan sangat menentukan arah eskalasi dan dampaknya terhadap sektor energi. Untuk saat ini saja, dia mencatat harga minyak dunia telah melonjak dari kisaran US$ 60 per barel menjadi sekitar US$ 78 per barel.
“Kalau menurut saya uncertainty-nya masih cukup tinggi ya. Kita harus lihat dalam beberapa minggu ke depan, terutama seminggu ke depan ini. Jadi kalau ini bisa selesai cepat ya mungkin naiknya nggak akan tinggi lagi gitu ya,” kata Seto saat ditemui di Kantor Apindo, Jakarta, Senin (2/3/2026).
Seto memandang, kenaikan harga minyak global ini mencerminkan respons pasar atas potensi gangguan pasokan akibat konflik di kawasan. Namun, jika gejolak ini berlangsung lebih lama, dinilai akan membuat kondisi bisa lebih tidak menentu dan volatilitas harga di sektor energi bisa lebih tinggi.
Menurutnya, dampak global dari konflik tersebut kemungkinan besar akan ditransmisikan melalui kenaikan harga energi bagi negara-negara pengimpor minyak. Namun, dia menilai Indonesia telah memiliki langkah mitigasi sejak awal melalui strategi pengurangan ketergantungan impor energi.
“Kalau kita lihat strateginya Bapak Presiden (Prabowo Subianto) dari awal kan kita sudah coba untuk mengurangi dependensi terhadap impor ya.
Baca Juga
Konflik Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Minyak, OPEC+ Diperkirakan Naikkan Produksi
Salah satunya biodiesel, kebijakannya, dan segala macam. Saya kira itu sudah satu langkah mitigasi. Jadi kita coba kurangi dependensi terhadap minyaknya,” ucap Seto.
Menanggapi potensi dampak terhadap impor minyak dari Amerika Serikat (AS) atau negara lain, Seto menegaskan harga minyak bersifat global sehingga berlaku relatif sama di pasar internasional.
“Kalau harga minyak ditentukan global. Jadi impor dari negara mana pun karena global price, harganya tetap akan sama,” katanya.
Kendati demikian, dia mengakui bahwa faktor logistik dapat menjadi risiko tambahan apabila eskalasi konflik berdampak pada jalur distribusi strategis seperti Selat Hormuz. “Kalau eskalasinya terus dan Selat Hormuz ditutup, itu mungkin cukup problematik,” ujar Seto.
Baca Juga
Trump Pertimbangkan Serangan ke Iran, Harga Minyak Melonjak Hampir 2%

