Pertumbuhan Industri Rokok Elektrik Dinilai Melambat, DST Bidik Kinerja Hanya 1 Digit di 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Delta Sukses Teknologi (DST) menyebutkan industri rokok elektrik di Indonesia memiliki pasar yang cukup tinggi karena sektor ini masih relatif baru berkembang di Tanah Air, dan berpotensi tumbuh 20-30%. Namun industri ini mengalami perlambatan pada periode dua tahun terakhir.
“Kalau melihat karakter industri baru, idealnya pertumbuhan bisa di atas 20% bahkan 30%. Namun realisasinya tidak selalu seperti itu,” ujar Commercial and Corporate Director PT Delta Sukses Teknologi (DST) Ira Octaviera saat diskusi industri 2026 di Jakarta Selatan, Selasa (24/2/2026).
Ira menjelaskan, berdasarkan data penerimaan cukai, pertumbuhan industri pada 2023–2024 tercatat cukup tinggi. Kendati demikian, ketika memasuki 2024–2025, laju pertumbuhan industri rokok elektrik melambat menjadi sekitar 7%.
Namun pada 2025-2026, Ira mengungkapkan, PT Delta Sukses Teknologi (DST) memproyeksikan pertumbuhan bisnis masih di kisaran satu digit. Menurutnya, hal tersebut dikarenakan melihat kondisi perekonomian nasional hingga daya beli masyarakat.
Baca Juga
"Dengan kondisi ekonomi yang sekarang mungkin di bawah 2 digit ya saya bisa bicara. Karena cukup berat, cukup berat, cukup berat," ungkapnya.
Lebih lanjut, menurut Ira, pola konsumsi rokok elektrik juga mengalami perubahan, dan cenderung menggunakan lebih dari satu alternatif produk nikotin, mulai dari rokok konvensional, rokok elektrik (vape), hingga produk heated tobacco (H&B). Namun dalam situasi ekonomi yang ketat, konsumen akan memprioritaskan kebutuhan utama mereka.
Selain faktor ekonomi, Ira mengungkapkan, meningkatnya kesadaran kesehatan (health consciousness) di kalangan generasi muda turut memengaruhi dinamika pasar. Ia menilai generasi saat ini lebih teredukasi dan lebih selektif dalam mengonsumsi produk dibanding generasi sebelumnya.
“Potensi industrinya tetap ada karena ini masih relatif baru. Tetapi pola pertumbuhannya berbeda dengan industri rokok konvensional pada masa awal ekspansinya,” jelas Ira.

