BI: QRIS Tap Belum Bisa Dipakai di iPhone karena Terkendala Akses NFC Apple
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Fitur QRIS Tap berbasis near field communication (NFC) hingga kini belum dapat digunakan oleh pengguna iPhone. Bank Indonesia (BI) menyebut kendala berasal dari kebijakan Apple yang belum membuka akses NFC untuk aplikasi pihak ketiga.
Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta meminta pengguna iPhone bersabar menunggu perkembangan lebih lanjut. “Pengguna QRIS mohon bersabar untuk iPhone ya. Karena saat ini memang Apple itu belum membuka NFC fiturnya. Dia hanya membuka untuk Apple Pay,” ujar dia dikutip Senin (23/2/2026).
Baca Juga
Lebih Mudah, Pembayaran di RSUD Tarakan Bisa Pakai QRIS Tap NFC JakOne Mobile Bank DKI
Filianingsih menjelaskan iPhone sebenarnya telah dilengkapi teknologi NFC untuk transaksi tap-to-pay. Namun, akses tersebut masih terbatas untuk layanan internal, seperti Apple Pay.
Menurut dia, BI telah berkomunikasi dengan pihak Apple, baik perwakilan Indonesia maupun kantor pusat. “Mereka juga akan mendalami fitur QRIS Tap untuk melihat kemungkinan membuka fitur NFC-nya seperti yang sudah dilakukan di Uni Eropa,” jelasnya.
QRIS Tap merupakan pengembangan sistem QRIS konvensional yang sebelumnya mengandalkan pemindaian kode QR. Dengan teknologi NFC, pengguna cukup menempelkan ponsel ke mesin pembaca untuk menyelesaikan transaksi dalam hitungan detik.
“Sistem ini tidak lagi membutuhkan pemindaian barcode QRIS. Cukup tempelkan ponsel dan transaksi selesai dalam beberapa detik,” sambung Filianingsih.
Saat ini QRIS Tap baru tersedia untuk perangkat Android yang mendukung NFC serta smartwatch berbasis WearOS. Fitur ini dirancang untuk meningkatkan kecepatan dan kenyamanan pembayaran, terutama di sektor transportasi, ritel modern, hotel, dan restoran.
Baca Juga
OCBC Luncurkan Tap Kartu Kredit, Transaksi Nirsentuh dengan Teknologi NFC
Dari sisi kinerja, transaksi QRIS Tap menunjukkan pertumbuhan positif. BI mencatat lebih dari 475.000 transaksi telah diproses dengan pertumbuhan sekitar 7,9% secara bulanan.
Nilai nominal transaksi juga meningkat 6,4% month to month menjadi sekitar Rp 4,6 miliar. Rata-rata transaksi tercatat sekitar Rp 5.000 di sektor transportasi dan sekitar Rp 70.000 di restoran serta ritel lainnya.

