Indonesia Siap Hadapi Segala Kemungkinan, Seskab Teddy: Kita Sudah Sedia Payung Sebelum Hujan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Sekretaris Kabinet (Seskab), Teddy Wijaya menegaskan, pemerintah Indonesia tetap optimistis dan siap menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi dalam penetapan tarif ekspor RI ke Amerika Serikat (AS). Indonesia sudah sedia payung sebelum hujan alias sudah mempersiapkan antisipasi sebaik mungkin.
“Bapak Presiden telah melakukan diplomasi langsung terhadap AS. Intinya kita, Indonesia siap menghadapi segala kemungkinan yang terjadi, oke?!” ujar Teddy Wijaya dikutip dari video Sekretariat Presiden, Sabtu (21/2/2026).
Pada Jumat (20/2/2026) waktu setempat, Mahkamah Agung (MA) AS membatalkan kebijakan tarif resiprokal global Presiden Donald Trump. Putusan ini dikeluarkan pada hari yang sama, saat pemerintah Indonesia dan AS sepakat menurunkan tarif dagang antar-kedua negara.
Baca Juga
Kendati Terkejut, Indonesia Sudah Dapat Bocoran soal Potensi Putusan Mahkamah Agung AS
Berdasarkan kesepakatan tersebut, AS memangkas bea masuk (BM) barang dari Indonesia menjadi 19% dari 32%. Tarif ini disepakati setelah hampir satu tahun kedua negara bernegosiasi.
“Sebelum ada putusan Supreme Court (MA AS), kita (Indonesia) sudah negosiasi, Bapak Presiden dan tim, dari 32% menjadi 19%. Kemudian mungkin juga akan bisa lebih turun lagi,” tegas Teddy.
Beberapa jam setelah MA AS memutuskan bahwa sejumlah tarif impor dinyatakan ilegal, Trump memberlakukan tarif global baru sebesar 10% untuk seluruh negara. Keputusan yang diteken pada Jumat (20/2/2026) waktu setempat pun dianggap menguntungkan Indonesia.
“Nah, setelah ada Supreme Court kemarin, ya tentunya dari 19% menjadi 10% itu secara hitung-hitungan lebih baik,” kata Teddy.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan, Indonesia termasuk negara yang paling lama berunding soal tarif dagang dengan AS. Hal ini dianggap pertanda baik karena Negara Adidaya itu masih membuka peluang bagi Indonesia untuk menegosiasi tarif dagang.
Baca Juga
Prabowo dan Trump menemui kesepakatan bahwa ekspor dari Indonesia ke AS akan dikenai tarif resiprokal 19%, kecuali untuk produk-produk tertentu yang akan menerima tarif timbal balik 0%. Adapun Indonesia menghapus 99% hambatan tarif bagi produk-produk AS.
Kesepakatan di luar putusan MA AS itu pun dipercaya telah membentuk ruang aman bagi Indonesia. Alhasil, pemerintah dari negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara ini siap menghadapi segala kemungkinan dalam perubahan tarif dagang dengan AS.
“Tetapi intinya, pada prinsipnya Indonesia siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Jadi kita sudah sedia payung sebelum hujan. Begitulah kira-kira,” tutur Teddy.

