Mendag Budi Pelototi Harga Daging Ayam yang Melonjak Jelang Ramadan
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menegaskan bakal memantau secara ketat harga daging ayam ras yang melonjak menjelang Ramadan 2026. Hal tersebut untuk merespons sebagian masyarakat yang mengeluhkan harga daging ayam tembus Rp 45.000 per kilogram.
Mendag Budi menegaskan harga daging ayam ras secara rata-rata nasional adalah Rp 40.259 per kilogram. Meski demikian, Budi mengakui terdapat sejumlah wilayah yang mengalami kenaikan harga daging ayam hingga Rp 45.000 per kilogram.
Baca Juga
Tinjau Pasar Cikurubuk Tasikmalaya, Gibran Pastikan Harga Pangan Stabil dan Pasokan Aman
Dikatakan, harga tersebut tidak mencerminkan harga secara nasional. Untuk itu, Budi memastikan Kemendag akan terus memantau pergerakan harga komoditas itu.
"Daging ayam, tadi saya cek rata-rata nasionalnya, harga daging ayam ras rata-rata nasional Rp 40.259. Artinya memang ada yang Rp 45.000, tapi ada juga pasti di bawah Rp 40.000. Jadi bukan berarti rata-rata nasionalnya Rp 45.000, tetapi yang harga mahal tadi, Rp 45.000, ya tetap kita cek," kata Mendag Budi saat ditemui di kantor Kemendag, Jakarta, Rabu (18/2/2026).
Mantan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemendag ini menyebutkan, pemerintah akan terus menelusuri penyebab harga daging ayam yang melonjak di sejumlah daerah, khususnya menjelang bulan puasa atau Ramadan. Tidak hanya daging ayam, ia memastikan harga komoditas pangan harus sesuai dengan harga eceran tertinggi (HET).
"Kita cek terus kenapa dia mahal, mungkin pasokannya kurang atau memang pasar itu tiba-tiba kebutuhannya meningkat. Kita pastikan jangan sampai mahal. Semua kita usahakan sesuai harga acuan atau harga eceran tertinggi (HET)," terang Mendag Budi.
Baca Juga
Jelang Ramadan, Mentan Amran Tegaskan Tak Ada Alasan Harga Pangan Naik
Mendag Budi juga menanggapi terkait keluhan pedagang di pasar mengenai pasokan ayam yang disebut berkurang. ia mengatakan, pihaknya telah berdiskusi dengan pelaku usaha dan UMKM. Menurutnya, pola produksi saat ini justru lebih stabil karena permintaan cenderung pasti.
"Kalau dulu harga naik turun karena permintaan naik turun. Sekarang ketika permintaan grafiknya lebih pasti, produksi mengikuti secara linier. Sehingga harga cenderung stabil,” imbuh Mendag Budi.

