Bahlil Dorong Perbankan Biayai Proyek Hilirisasi, Investasi Capai US$ 850 Miliar
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengingatkan perbankan nasional agar aktif membiayai proyek-proyek hilirisasi dalam negeri dengan nilai US$ 850 miliar. Dia menegaskan, jangan sampai sektor perbankan justru abai sehingga nilai tambah industri strategis nasional kembali dikuasai investor asing.
“Nah ini kesempatan perbankan untuk membiayai. Jangan sampai kalian tidak biayai lagi, nanti dikira hilirisasi itu hanya nilai tambahnya dikuasai oleh teman-teman kita dari luar negeri,” ucap Bahlil dalam acara Indonesia Economic Outlook 2026 di Jakarta, Jumat (13/2/2026).
Bahlil membeberkan, pemerintah telah merancang program hilirisasi besar-besaran terhadap 28 komoditas dari berbagai sektor, mulai perkebunan, kelautan, perikanan, hingga minyak dan gas bumi. Total kebutuhan investasi diperkirakan mencapai US$ 850 miliar hingga 2040.
Menurut Bahlil, proyek hilirisasi tersebut merupakan mesin pertumbuhan ekonomi baru Indonesia. Ia mengungkapkan bahwa sekitar 90% dari proyek hilirisasi tersebut berada di sektor ESDM.
Baca Juga
“Saya harus jujur mengatakan bahwa pengelolaan sumber daya alam dari total US$ 850 miliar lebih itu, 90%-nya ada di sektor ESDM. Saya akan konsisten untuk melakukan ini,” ujar mantan Menteri Investasi tersebut.
Bahlil mencontohkan keberhasilan kebijakan hilirisasi nikel yang dimulai saat dirinya masih menjabat menteri investasi. Ketika ekspor bijih (ore) nikel dihentikan, nilai ekspor melonjak signifikan. Pada 2018–2019, total ekspor nikel Indonesia hanya sekitar US$ 3,3 miliar. Namun, setelah larangan ekspor bijih nikel diberlakukan, nilai ekspor produk turunannya pada 2024 telah menembus sekitar US$ 34 miliar.
Kebijakan serupa juga diterapkan pada komoditas lain. Tahun lalu pemerintah menghentikan ekspor bauksit mentah, dan ke depan akan mengkaji larangan ekspor bahan mentah untuk komoditas lain, termasuk timah.
“Sudah cukup negara kita ini dijajah oleh Belanda 3,5 abad, itu hanya untuk mengambil rempah-rempah dan bahan baku kita. Jangan kita sudah merdeka masih pula kita kirim barang mentah,” kata Bahlil.
Bahlil menambahkan, Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional yang dipimpinnya telah menyerahkan pengelolaan 18 komoditas prioritas kepada CEO Danantara Rosan Roeslani untuk dieksekusi dalam beberapa bulan ke depan. Selain itu, pemerintah juga tengah menyiapkan tambahan komoditas lain untuk didorong masuk ke tahap hilirisasi.
Seluruh produk hilirisasi tersebut diarahkan untuk memperkuat substitusi impor dengan memanfaatkan captive market dalam negeri yang besar. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya meningkatkan nilai tambah ekspor, tetapi juga mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.
Dalam konteks itu, Bahlil menilai dukungan pembiayaan dari perbankan nasional menjadi kunci. Ia berharap lembaga keuangan domestik tidak ragu masuk ke proyek-proyek hilirisasi strategis agar manfaat ekonominya benar-benar dirasakan di dalam negeri.
Baca Juga
ESDM Tak Khawatir Impor 'Ore' Nikel 15 Juta Ton dari Filipina karena untuk Hilirisasi
“Silakan teman-teman membangun investasi hilirisasi di dalam negeri. Ini mesin pertumbuhan ekonomi nasional kita,” tegasnya.
Salah satu yang getol melakukan hilirisasi adalah BUMN tambang MIND ID untuk menjadi mesin pencipta nilai tambah. MIND ID berkomitmen, hilirsasi tidak lagi sekadar proyek fisik, melainkan strategi mengubah komoditas mentah menjadi aset industri bernilai tinggi melalui pembangunan smelter serta integrasi rantai pasok.
Transformasi itu dipandang sebagai strategi jangka panjang untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global, terutama pada komoditas strategis yang kini terintegrasi dengan industri pengolahan domestik.

