Lewat “ABAC Meeting I 2026”, Indonesia Dorong Investasi, Perdagangan, dan Agenda Keberlanjutan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Indonesia memanfaatkan pertemuan APEC Business Advisory Council (ABAC) Meeting I 2026 untuk memperkuat posisi sebagai tujuan investasi dan mitra dagang strategis di kawasan Asia Pasifik.
ABAC Meeting I 2026 sendiri merupakan forum strategis yang mempertemukan para pemimpin dunia usaha dari 21 ekonomi anggota APEC untuk merumuskan rekomendasi kebijakan dunia usaha yang akan disampaikan kepada para pemimpin ekonomi APEC
Ketua ABAC Indonesia sekaligus Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie mengungkapkan, APEC memiliki peran strategis dalam perekonomian global. Kawasan APEC mencakup sekitar 40% populasi dunia, 50% perdagangan global, serta 60% produk domestik bruto (PDB) dunia. Bagi Indonesia, sekitar 70% perdagangan nasional terhubung dengan negara-negara APEC.
“Ini bisa dibilang seperti multilateral kayak G20 tapi lebih beragam, dan size-nya juga tetap besar. Indonesia ini dipercayai oleh China untuk menjadi (tuan rumah) rapat pertama,” ujarnya, dalam Press Conference ABAC Meeting I 2026, di Hotel Shangri-La, Jakarta, Senin (9/2/2026).
Baca Juga
Anindya Highlights Five Pillars at ABAC Meeting 2026 as Indonesia Courts APEC Investors
Menurut Anindya, ajang ini sangat penting sekali karena telah terbentuk arah dan fokus working group. Salah satu fokus utama ABAC kali ini adalah integrasi regional, khususnya integrasi infrastruktur keras maupun lunak untuk mendorong investasi dan perdagangan. Selain itu, isu inklusi keuangan dan keberlanjutan juga menjadi perhatian utama.
Ia mencontohkan peran Member of ABAC Indonesia Kartika Wirjoatmodjo yang aktif dalam pembahasan financial inclusion, serta Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W Kamdani yang mendorong agenda sustainability, termasuk usulan pembentukan carbon center of excellence.
“Jadi bukan saja kita menjadi event organizer, tapi kita juga bantu set agenda. Bahkan memasukkan juga lesson learned dari Indonesia untuk dunia,” kata Anindya.
Baca Juga
Ia juga menekankan kuatnya dukungan pemerintah dalam pertemuan tersebut. Selama dua hari pelaksanaan, empat menteri hadir untuk mempromosikan peluang investasi dan perdagangan Indonesia, yaitu Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Menteri Perdagangan Budi Santoso, serta Menteri Luar Negeri (Sugiono).
“Mereka semua sangat mengapresiasi karena begitu besar rekognisinya, pengakuannya. Dan yang paling penting ini salah satu contoh Indonesia incorporated,” ucap Anindya.
Di kesempatan yang sama, Member of ABAC Indonesia sekaligus Ketua Umum Apindo Shinta W Kamdani mengatakan, ABAC merupakan forum resmi dunia usaha APEC yang bertugas menyampaikan rekomendasi kebijakan kepada para pemimpin negara anggota.
“Dari ABAC, kami akan menyampaikan masukan kepada pemerintah negara-negara APEC. Dan memang tahun ini temanya menarik sekali ya, open connectivity and sinergy. Jadi sangat cocok dengan situasi yang kita alami saat ini juga,” ujarnya.
Shinta menambahkan, Indonesia juga membawa sejumlah legacy agenda ke dalam pembahasan ABAC, salah satunya pengembangan carbon center of excellence yang dinilai penting untuk mendorong kerja sama keberlanjutan dan pembiayaan hijau di kawasan Asia Pasifik.
“Terutama yang berkaitan dengan sustainability financing. Ini satu kesempatan yang bisa dioptimalkan untuk kerjasama antar negara Asia Pasifik juga,” katanya.
Selain isu besar, Indonesia juga memanfaatkan forum ABAC untuk mempromosikan sektor UMKM dan agenda maritim. Sejumlah side event turut menghadirkan promosi seperti Ocean Impact Summit yang akan digelar Juni mendatang, serta berbagai proyek investasi dari kementerian terkait.
Di bidang keuangan dan perdagangan, Member of ABAC Indonesia Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, terdapat empat area utama yang dibahas dalam trade finance. Pertama, integrasi sistem pembayaran, di mana Indonesia dinilai unggul melalui penerapan QR payment yang sudah interoperable di kawasan Asean.
“Jadi kita juga bisa menjadi contoh bagaimana integrasi regional didorong dengan payment integration seperti QR,” ucapnya.
Kedua, pergerakan modal swasta melalui pembiayaan terstruktur dan kemitraan lintas negara. Ketiga, pengembangan digital currency untuk mendukung kelancaran arus perdagangan internasional. Keempat, penguatan sustainable finance dan inklusi keuangan.
“Di Indonesia saya rasa untuk sustainable finance khususnya financial inclusion sangat maju ya. Karena kita punya program seperti KUR (kredit usaha rakyat), MEKAR (membina ekonomi keluarga sejahtera) yang memang bisa jadi contoh untuk negara lain untuk poverty alleviation (pengentasan kemiskinan),” ujar Kartika.

