Ilham Habibie: Indonesia 'Open Network' Perluas Akses Ekonomi Digital
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Ilham A Habibie mengungkapkan ajang Indonesia Open Network (ION) 2026 digelar guna mendorong inklusifitas ekonomi digital serta pembangunan infrastrukturnya dengan transfer pengetahuan dari India.
Ilham menjelaskan, forum ini dirancang untuk memperluas akses teknologi digital dengan biaya rendah, serupa dengan transformasi sistem pembayaran nasional melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) yang kini digunakan secara luas oleh masyarakat, baik domestik hingga mancanegara.
“Berbicara mengenai Indonesia Open Network, saya kira banyak orang sudah memiliki gambaran tentang apa ini nantinya, tetapi Anda perlu membayangkannya seperti revolusi sistem pembayaran di Indonesia melalui QRIS. Itu sangat mudah dan semua orang bisa menggunakan dengan biaya yang rendah,” kata Ilham dalam ajang ION 2026 di Artotel Mangkuluhur, Jakarta Pusat, Kamis (5/2/2026).
Menurutnya, transfer pengetahuan dari India sangat penting mengingat negara tersebut menjadi salah satu pemain kunci di era digitalisasi saat ini.
Baca Juga
Indonesia Dorong Open Digital Commerce Melalui Inisiatif Jaringan Nasional Baru
“Indonesia ingin melakukan sesuatu yang sebelumnya telah dilakukan di negara lain. Karena itu, kami melihat kehadiran yang besar dari negara lain yang sangat besar, yakni India. India, bertahun-tahun lalu, memelopori gagasan yang disebut sebagai infrastruktur publik digital,” ujar Ilham.
Ilham menuturkan, infrastruktur publik digital bertujuan menyediakan teknologi digital dengan biaya serendah mungkin agar dapat dimanfaatkan oleh sebanyak mungkin masyarakat. Meski demikian, Indonesia tidak sekadar meniru, melainkan menyesuaikan dengan kebutuhan domestik.
“Kami tidak sekadar menyalin, tetapi mencoba belajar dari pengalaman India untuk kemudian menghadirkan solusi kami sendiri tentang apa arti memberdayakan sebanyak mungkin masyarakat Indonesia dengan memanfaatkan teknologi guna meningkatkan kualitas hidup mereka,” jelas dia.
Ia juga menyoroti peran usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam ekonomi digital. Jumlah UMKM di Indonesia mencapai lebih dari 60 juta unit atau hampir 20% dari total populasi.
“Bisa dibayangkan, satu dari lima orang Indonesia terlibat dalam UMKM. Jika kita memberdayakan kelompok ini saja, kita sudah berbicara tentang bagian yang sangat besar dari populasi kita,” kata dia.
Indonesia Open Network, kata Ilham, tidak hanya diarahkan untuk kepentingan komersial, tetapi juga mencakup aspek pendidikan dan peningkatan literasi digital. Menurutnya, literasi menjadi kunci agar masyarakat dapat memanfaatkan teknologi untuk berbagai kebutuhan, mulai dari transaksi hingga layanan publik.
Baca Juga
IEF Gelar Indonesia Open Network, Tekankan Arsipelago Digital
“Jika kita berbicara tentang teknologi digital, literasi adalah poin kunci. Masyarakat perlu memahami cara menggunakannya dan memanfaatkannya untuk transaksi, pendidikan, bahkan layanan kesehatan,” terang Ilham.
Ilham menegaskan, ekonomi digital telah menjadi bagian penting dari perekonomian nasional. Hampir seluruh sektor, tambah dia, kini memiliki komponen digital, baik secara langsung maupun tidak langsung. “Sulit membayangkan bahwa apa pun yang kita lakukan hari ini tidak memiliki unsur digital,” ujar putra sulung Presiden ke-3 RI BJ Habibie.
Ke depan, Ilham menyampaikan, Indonesia Open Network diarahkan untuk memperluas akses dan literasi digital agar teknologi dapat dimanfaatkan secara luas oleh rakyat Indonesia dengan biaya yang terjangkau.

