Industri AMDK Hadapi Tantangan Bahan Baku Kemasan hingga Logistik
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Industri Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) nasional masih dihadapkan pada berbagai tantangan struktural, mulai ketergantungan bahan baku kemasan hingga tingginya biaya distribusi dan isu keberlanjutan lingkungan. Pemerintah menilai tantangan tersebut perlu dijawab melalui penguatan ekosistem industri dalam negeri dan transformasi menuju ekonomi sirkular.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika mengungkapkan bahwa tantangan utama industri AMDK berasal dari bahan baku kemasan yang belum sepenuhnya dapat dipenuhi dari dalam negeri, sehingga masih bergantung pada impor.
“Beberapa bahan kemasan, seperti BOPP dikenakan bea masuk anti-dumping (BMAD). Di sisi lain, harga kemasan berbasis PET daur ulang masih relatif lebih mahal dibandingkan plastik virgin, sementara investasi pengolahan PET daur ulang di dalam negeri masih terbatas,” ujar Putu dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR di Jakarta, Rabu (4/2/2026).
Baca Juga
Industri AMDK Serap 2 Juta Tenaga Kerja, Pemerintah Dorong Keberlanjutan dan Industri 4.0
Menurut dia, kondisi tersebut membuat komponen kemasan memberikan kontribusi biaya produksi yang cukup signifikan bagi industri AMDK. Padahal, penggunaan kemasan daur ulang menjadi salah satu tuntutan utama dalam agenda keberlanjutan industri.
Tantangan berikutnya datang dari distribusi dan logistik. Biaya logistik per unit AMDK masih relatif tinggi, antara lain akibat keterbatasan moda transportasi serta belum optimalnya penerapan ketentuan over dimension over load (ODOL).
“Masih banyak distribusi AMDK yang menggunakan kendaraan truk dengan kondisi ODOL. Selain itu, pembatasan distribusi pada periode tertentu, terutama saat hari besar keagamaan, turut berdampak pada kelancaran distribusi AMDK,” bebernya.
Dari sisi lingkungan, industri AMDK juga menghadapi persepsi publik terkait pengambilan air tanah yang dinilai berlebihan. Di sisi lain, kemampuan industri plastik daur ulang nasional masih terbatas, baru mampu memenuhi sekitar 19% kebutuhan plastik nasional. Tata kelola pengumpulan bahan baku daur ulang kemasan pun belum sepenuhnya optimal.
“Untuk menjawab tantangan tersebut, industri AMDK telah melakukan berbagai upaya keberlanjutan. Dari sisi konservasi sumber daya alam, industri telah melakukan penanaman lebih dari 2 juta pohon, pembangunan sekitar 2.500 sarana resapan air seperti embung, parit resapan, dan biopori, serta penyediaan sumber air bersih bagi masyarakat,” jelas Putu.
Selain itu, industri juga melakukan pendampingan kepada petani dalam penerapan praktik budi daya yang ramah air dan minim pencemaran kimia, serta meningkatkan efisiensi dan sirkularitas penggunaan air dalam proses produksi.
Dalam kerangka ekonomi sirkular, industri AMDK mulai mengadopsi energi baru terbarukan (EBT). Saat ini, terdapat empat perusahaan AMDK yang telah memanfaatkan panel surya dan energi biomassa, dengan dampak pengurangan emisi mencapai sekitar 49.431 ton CO2 ekuivalen per tahun.
Baca Juga
Inocycle (INOV) Berpotensi Kejatuhan "Durian Runtuh" Aturan Label AMDK
Upaya pengelolaan kemasan juga terus diperkuat. Tercatat terdapat lima pabrik daur ulang kemasan plastik dengan kapasitas total 84.360 ton per tahun, serta pengembangan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) dengan kapasitas total 230 ton per hari.
“Industri AMDK juga mulai menggunakan kemasan ramah lingkungan, mengurangi gramasi plastik, serta memanfaatkan kemasan daur ulang untuk menghasilkan produk lain,” kata Putu.

