Perkuat Rantai Pasok, Pertamina Satukan KPI, Patra Niaga, dan PIS Jadi Subholding 'Dowstream'
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – PT Pertamina (Persero) menuntaskan langkah awal transformasi bisnisnya pada awal 2026 melalui integrasi bisnis hilir yang ditandai penandatanganan akta notaris aksi korporasi integrasi bisnis hilir di Grha Pertamina, Jakarta, Jumat (30/1/2026). Langkah ini menjadi fondasi strategis untuk meningkatkan efisiensi, memperkuat rantai pasok energi, serta memperkuat ketahanan bisnis jangka panjang perusahaan energi milik negara tersebut.
Penandatanganan akta korporasi tersebut disaksikan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri bersama jajaran direksi. Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero) Agung Wicaksono turut mendampingi dalam agenda yang menandai dimulainya tahap awal transformasi Pertamina pada awal 2026.
Baca Juga
Distribusi Pertalite 2025 Hanya 89,86%, Penghematan BBM Subsidi dan Kompensasi Rp 4,9 T
Agung menegaskan bahwa integrasi tersebut memiliki makna strategis bagi arah perusahaan. “Bagi saya, ini bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah momen bersejarah, milestone penting yang menandai tercapainya tahap awal transformasi Pertamina pada awal 2026. Transformasi yang dimulai dengan satu langkah besar, integrasi bisnis hilir,” ujar Agung dikutip dalam akun instagram pribadinya dikutip Senin (2/2/2026).
Melalui aksi korporasi ini, Pertamina mengintegrasikan tiga subholding pada sektor hilir, yakni PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), perusahaan pengolahan minyak dan petrokimia, PT Pertamina Patra Niaga (PPN), subholding komersial dan perdagangan energi, serta bisnis captive PT Pertamina International Shipping (PIS), perusahaan pelayaran energi. Ketiganya disatukan dalam satu entitas terintegrasi bernama subholding downstream (SDH).
Agung menjelaskan bahwa pembentukan SDH menjadi fondasi baru bagi cara kerja yang lebih selaras dan efisien. Integrasi ini diharapkan menciptakan proses bisnis lebih terarah, memperkuat koordinasi antarlini, serta meningkatkan kecepatan pengambilan keputusan di sektor hilir Pertamina.
Langkah strategis tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto melalui Danantara, badan pengelola investasi negara, yang mendorong perampingan dan streamlining badan usaha milik negara (BUMN) agar lebih fokus pada core business, meningkatkan efisiensi, serta menghadirkan nilai tambah optimal bagi negara.
Baca Juga
BBM di SPBU Swasta Kembali Langka? Wamen ESDM Sarankan Beli dari Pertamina
Menurut Agung, integrasi bisnis hilir merupakan wujud konkret transformasi Pertamina yang berorientasi pada penguatan rantai pasok energi. “Integrasi bisnis hilir ini adalah wujud nyata transformasi Pertamina. "Kami memperkuat rantai pasok energi dari hulu pengolahan hingga ke layanan kepada konsumen, membangun kapabilitas yang lebih solid, serta meningkatkan resiliensi dan daya tahan jangka panjang,” katanya.
Dia menambahkan bahwa tujuan akhir dari langkah ini adalah memperkuat kemandirian energi nasional sekaligus memastikan keberlanjutan bisnis Pertamina di masa depan. Dengan struktur hilir yang terintegrasi, perusahaan diharapkan mampu merespons dinamika pasar energi secara lebih adaptif dan efisien.
Berdasarkan informasi, penandatanganan akta dilakukan antara pemegang saham PT Pertamina (Persero), yakni Danantara Indonesia dan BP BUMN, serta ditindaklanjuti dengan penandatanganan akta korporasi oleh manajemen masing-masing entitas.
Untuk skema merger, penandatanganan dilakukan oleh direktur utama PT Pertamina Patra Niaga (PPN) dan PT Kilang Pertamina Internasional (KPI). Sementara untuk skema spin off, akta ditandatangani oleh 10 SPV di bawah PT Pertamina International Shipping (PIS).

