Strategi Pertamina Jaga Produksi Migas dan Investasi Rendah Karbon
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – PT Pertamina Hulu Energi (PHE), subholding hulu PT Pertamina (Persero), menegaskan minyak dan gas bumi (migas) masih memegang peran kunci dalam menjaga ketahanan energi nasional di tengah meningkatnya kebutuhan domestik dan percepatan transisi menuju energi rendah karbon. Peran tersebut menjadi penting karena sektor migas tetap menjadi penopang arus kas yang memungkinkan keberlanjutan investasi energi nasional.
Penegasan itu disampaikan Direktur Keuangan PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Bayu Kusuma Dewanto dalam "Pembekalan Calon Wisudawan Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Periode II Tahun Akademik 2026/2027" di Grha Sabha Pramana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Baca Juga
PHE Perkuat Eksplorasi di Indonesia Timur Lewat Penandatanganan 'Farm Out Agreement' Blok Bobara
“Di tengah transisi energi, sektor migas tetap berperan sebagai penopang utama ketahanan energi nasional. Arus kas dari bisnis migas memungkinkan Pertamina menjaga keberlanjutan investasi, termasuk untuk eksplorasi, peningkatan produksi, dan pengembangan bisnis rendah karbon,” ujar Bayu dalam keynote speech bertajuk Staying Relevant: Navigating Change in a Dynamic World dikutip Jumat (23/1/2026).
PHE saat ini menghadapi tantangan penurunan alamiah produksi minyak dan gas, seiring usia lapangan yang semakin matang. Kondisi tersebut menjadi isu struktural industri hulu migas global dan berdampak langsung pada profil produksi nasional. Untuk menjaga tingkat produksi, PHE menjalankan sejumlah program pengelolaan aset yang mencakup pengeboran baru, workover, well intervention and well service (WIWS), serta penerapan enhanced oil recovery (EOR) dan improved oil recovery (IOR). Strategi ini diarahkan untuk memperlambat laju penurunan produksi sekaligus mengoptimalkan potensi cadangan yang ada.
Selain fokus pada lapangan eksisting, PHE terus mendorong kegiatan eksplorasi sebagai sumber pertumbuhan jangka menengah dan panjang. Menurut Bayu, Indonesia masih memiliki potensi cekungan migas yang belum tergarap optimal. “Indonesia masih memiliki potensi besar, sehingga membuka peluang investasi dan kolaborasi strategis guna mendukung keberlanjutan pasokan,” katanya.
Dari perspektif investor institusional, agenda eksplorasi dan pengelolaan lapangan mature tersebut memiliki implikasi langsung terhadap kebutuhan belanja modal atau capital expenditure (capex). Investasi pada pengeboran, EOR, dan eksplorasi berisiko tinggi di sisi biaya, tetapi menjadi kunci menjaga profil produksi dan arus kas jangka panjang. Keberhasilan PHE mengelola efisiensi capex dan meningkatkan recovery rate akan berpengaruh terhadap valuasi aset hulu migas Pertamina, terutama di tengah volatilitas harga minyak global dan tekanan biaya operasional.
Baca Juga
Pada saat yang sama, PHE menempatkan agenda transisi energi dan prinsip environmental, social, and governance (ESG) sebagai bagian integral dari strategi bisnis. Perusahaan mengembangkan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon atau carbon capture, storage, and utilization (CCS/CCUS) sebagai solusi dekarbonisasi industri migas. PHE mengelola potensi kapasitas penyimpanan karbon sebesar 7,3 giga ton di 11 lokasi prioritas, yang diharapkan tidak hanya menurunkan intensitas emisi, tetapi juga memperpanjang usia ekonomis lapangan migas.
Bagi investor jangka panjang, proyek CCS/CCUS memiliki dua sisi. Di satu sisi, teknologi ini berpotensi menambah kebutuhan capex dan menekan arus kas dalam jangka pendek. Namun di sisi lain, penerapan CCS/CCUS dapat menurunkan risiko ESG, meningkatkan kepatuhan terhadap standar lingkungan global, serta menjaga akses pembiayaan dan daya tarik aset di tengah meningkatnya tuntutan dekarbonisasi dari pasar keuangan internasional.

