Wamen P2MI: Dunia Berubah, Peran Pekerja Migran dan Industri Halal Semakin Penting
Poin Penting
|
TANGERANG, investortrust.id — Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Dzulfikar Ahmad Tawalla, menekankan pentingnya adaptasi terhadap perubahan besar yang terjadi di dunia saat ini. Tawalla, yang berbicara di hadapan para peserta simposium, mengungkapkan bahwa dunia kini berada pada titik perubahan total, yang juga mempengaruhi sektor pekerja migran dan industri halal global.
Menurutnya, dunia ekonomi saat ini tidak lagi terikat pada ideologi kapitalisme atau sosialisme seperti yang terjadi sebelumnya. Negara-negara besar yang dulu menjadi penyokong ideologi-ideologi ekonomi tersebut kini beralih kepada model realism ekonomi, yang lebih berfokus pada kebutuhan nyata dan praktis daripada sekadar teori ekonomi.
"Ini adalah zaman perubahan, dan sektor pekerja migran menjadi salah satu aspek yang terpengaruh," katanya saat menyampaikan pidato pada acara Halal Syimposium 2026 di Menara Syariah, Pantai Indah Kapuk (PIK), Tangerang, Banten, Rabu (21/1/2026).
Dzulfikar juga menyoroti pentingnya perubahan dalam sektor pekerja migran, terutama dalam pola konsumsi yang kini lebih beragam. Dulu, pekerja migran biasanya bekerja in-house atau tinggal bersama majikan. Namun, kini banyak negara yang mulai mengalihkan model ini menjadi lebih fleksibel, seperti yang terlihat di negara-negara Teluk, di mana pekerja domestik kini lebih sering bekerja paruh waktu dan tidak tinggal bersama majikan.
Selain itu, ia juga menyebutkan fenomena aging population atau penuaan penduduk di negara-negara maju seperti Jepang dan Jerman, yang semakin memperburuk kebutuhan akan pekerja migran, terutama di sektor caregiver. Negara-negara tersebut mengalami kesulitan dalam mencari tenaga kerja produktif, karena tidak semua pekerja migran memiliki keterampilan atau kemampuan bahasa yang diperlukan, seperti bahasa Jerman yang dikenal sangat sulit untuk dipelajari.
Baca Juga
Anggaran KUR Pekerja Migran Resmi Beralih ke Kementerian P2MI
Dalam konteks industri halal, Dzulfikar menjelaskan bahwa industri halal global terus berkembang pesat. Berdasarkan data dari The Global Islamic Economy, industri halal menunjukkan angka pertumbuhan yang stabil, yakni sebesar 5,2% per tahun dari 2018 hingga 2026. Indonesia sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim, kata dia, memiliki potensi besar dalam mengembangkan sektor halal ini, baik dari sisi produksi maupun konsumsi.
"Restoran halal dan produk halal kini semakin banyak ditemui di kota-kota besar dunia seperti Tokyo dan Osaka," tambahnya.
Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah itu mengingatkan bahwa meskipun banyak produk mengklaim diri mereka halal, standar kehalalan kerap tidak terpenuhi dengan baik. Ia mengingatkan para pelaku industri untuk menjaga kehalalan produk sesuai dengan syariat Islam, yang sangat ketat dalam hal-hal seperti penyembelihan hewan dan bahan yang digunakan.
Dzulfikar juga menekankan bahwa perubahan global ini harus dihadapi dengan kesiapan dan pemahaman yang mendalam, terutama dalam hal perlindungan pekerja migran Indonesia. Untuk itu, ia mengajak semua pihak untuk bekerja sama dalam memajukan sektor ini agar dapat menghadapi tantangan-tantangan besar yang ada, baik di tingkat domestik maupun internasional.
"Indonesia memiliki potensi luar biasa untuk memimpin dalam sektor pekerja migran dan industri halal. Kita harus memanfaatkan peluang ini dengan baik," tegasnya.

