Apindo Nilai Target Pertumbuhan Manufaktur 5,51% di 2026 Realistis, Tapi Ada Catatan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W Kamdani menilai target pertumbuhan industri pengolahan non migas atau manufaktur 5,51% pada 2026 yang ditetapkan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) realistis untuk dicapai.
"Kami melihat target ini memiliki basis pertimbangan yang realistis namun dengan beberapa catatan yang perlu diperhatikan, terutama jika melihat kinerja industri pada tahun 2025," ucap Shinta kepada Investortrust.id, Kamis (15/1/2026).
Menurut Shinta, sepanjang 2025, industri manufaktur melewati tahun yang tidak ringan. Ia memaparkan, pada paruh pertama, tekanan sangat terasa karena PMI Manufaktur berada di zona kontraksi selama empat bulan berturut-turut, yakni pada April–Juli, dan sempat menyentuh level terendah dalam hampir empat tahun.
Shinta menilai, kondisi tersebut mencerminkan pelemahan aktivitas produksi dan permintaan, baik dari pasar domestik maupun ekspor. Memasuki paruh kedua, situasinya mulai berbalik, yakni PMI kembali ke zona ekspansi sejak Agustus hingga November, bahkan di November 2025 mencapai sekitar 53,3
"Data BPS menunjukkan bahwa pada Kuartal III/2025, industri pengolahan tumbuh 5,54% (yoy) dan manufaktur nonmigas tumbuh 5,58%, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,04%. Jadi kita masuk 2026 dari posisi yang belum ideal, tetapi ada sinyal membaik," ungkapnya.
Baca Juga
Target Investasi Manufaktur Rp852,9 Triliun, Kemenperin Pacu Pertumbuhan Industri 5,51% pada 2026
Ia juga menjelaskan, secara data kinerja subsektor manufaktur pada Kuartal III/2025 memang menunjukkan sinyal yang kuat. Industri logam dasar tumbuh hingga 18,62%, didorong permintaan ekspor besi dan baja. Industri makanan dan minuman tumbuh 6,49%, seiring peningkatan produksi CPO dan produk turunannya.
Sementara itu, industri kimia, farmasi, dan obat tradisional tumbuh 11,65%, serta industri mesin dan perlengkapan tumbuh 11,74%. Bahkan, subsektor jasa reparasi dan pemasangan mesin mencatat pertumbuhan hingga 16,30%.
Menurut Shinta, data tersebut menunjukkan bahwa target pertumbuhan sektoral yang diproyeksikan pemerintah bukan tanpa dasar, terutama untuk sektor-sektor yang terkait hilirisasi, kebutuhan domestik, dan industri pendukung.
"Namun, keberlanjutan pertumbuhan tersebut ke 2026 tetap mensyaratkan beberapa hal yang harus dijaga seperti kepastian pasokan energi, stabilitas harga, kelancaran logistik, hingga konsistensi kebijakan perdagangan dan industri," terang Shinta.

