Korban Bencana Banjir Sumatra Terus Bertambah: 744 Meninggal Dunia dan 551 Masih Hilang
JAKARTA, investortrust.id - Jumlah korban akibat bencana banjir di Sumatra Utara (Sumut), Sumatra Barat (Sumbar), dan Aceh terus bertambah. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang dipublikasikan melalui situs www.bnpb.go.id Selasa (2/12/2025), tercatat 744 orang meninggal dunia akibat bencana banjir Sumatra. Selain itu, terdapat 551 orang yang masih hilang atau belum ditemukan.
Kemudian, tercatat 2.564 orang terluka, 3,3 juta jiwa terdampak, dan 1,1 juta orang mengungsi yang tersebar di 50 kabupaten/kota di Sumut, Sumbar, dan Aceh.
Baca Juga
Update Korban Bencana Banjir Sumatra: 604 Meninggal dan 464 Masih Hilang
Tak hanya korban jiwa, banjir bandang dan longsor di tiga provinsi Pulau Sumatra juga menyebabkan sebanyak 3.600 unit rumah mengalami rusak berat, 2.100 rumah rusak sedang, dan 3.700 rumah rusak ringan. Selain itu, terdapat 323 unit fasilitas pendidikan dan 299 unit jembatan yang mengalami kerusakan.
Tim gabungan BNPB, TNI, Polri, Basarnas, pemerintah daerah bersama kementerian dan lembaga terkait lainnya terus bekerja menanggulangi bencana banjir Sumatra. Salah satunya dengan membuka akses wilayah terdampak yang sempat terisolasi. Hal itu untuk mempercepat operasi pencarian, pertolongan, dan penyaluran logistik.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan, segenap upaya komponen bangsa dalam proses pembukaan jalur yang menghubungkan Kota Medan di Sumatra Utara menuju Aceh Tamiang di Aceh mulai membuahkan hasil. sejumlah alat berat Dinas Pekerjaan Umum terus berusaha menyingkirkan material berupa tanah, lumpur dan puing lainnya yang sebelumnya menutup akses di jalur Sumatra Utara ke Kuala Simpang, Aceh Tamiang.
Sejumlah kendaraan roda empat mulai dapat melewati jalur tersebut dengan kecepatan terbatas. Targetnya, besok pagi atau Rabu (3/12/2025), jalur tersebut sudah dapat dilalui secara 100%. Pekerjaan hari ini tinggal menyingkirkan beberapa material yang masih menumpuk di pinggir jalan.
BNPB juga telah mengirim tim pendampingan di seluruh titik kabupaten/kota yang terdampak dan dipimpin langsung oleh Deputi Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Deputi 4 BNPB), Jarwansyah.
"Pendampingan ini meliputi pendistribusian logistik dan peralatan secara bertahap, baik melalui jalur laut dan udara, pemutakhiran data dan informasi, sistem komando dan hal lain yang dibutuhkan selama fase penanganan darurat," katanya.
Untuk distribusi bantuan jalur laut, dukungan ini dikirimkan dari Banda Aceh menuju Langsa, sebagai pintu masuk dengan durasi kurang lebih dua hari. Saat ini, bantuan logistik sudah berada di kantor Dinas Sosial Langsa untuk Kota Langsa, sedangkan Aceh Tamiang sudah dalam perjalanan. Hari ini juga, pendistribusian dukungan ini akan mulai dilakukan.
Sementara jalur udara untuk Aceh Tamiang, Deputi 4 BNPB telah memerintahkan helikopter untuk mengirimkan dukungan dengan metode air drop di beberapa titik seperti lapangan Dekat Babo dan Perupuk, Kecamatan Bandar Pusaka. Jenis dan kuantitas barang yang dikirim dalam tahap ini meliputi 100 pak makanan siap saji, 100 buah hygiene kit, 50 paket sembako, 100 lembar selimut, 100 lembar matras, dan 25 alat kebersihan.
Baca Juga
Abdul Muhari mengatakan, dengan terbukanya akses dari Medan menuju Aceh Tamiang, Langsa, hingga Lhoksumawe diharapkan berdampak yang lebih baik bagi masyarakat dan seluruh komponen yang bertugas di lapangan selama tanggap darurat hingga pemulihan nanti.
"Setelah akses mulai terbuka, maka distribusi bantuan logistik dan permakanan, pemulihan jaringan listrik dan telekomunikasi serta pembersihan material dapat lebih mudah dilakukan secara maksimal dan menyeluruh," harapnya.

