Rosan Sebut Proyek 'Waste to Energy' Bisa 'Groundbreaking' Mulai Maret
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia, Rosan Perkasa Roeslani, menyampaikan perkembangan proyek waste to energy atau pengolahan sampah menjadi listrik. Ia menyebut proyek ini akan dimulai di 33 kota seluruh Indonesia, dengan persyaratan minimum suplai 1.000 ton sampah per hari.
Rosan mengungkap, proyek ini menarik minat banyak investor asing yang kompeten di bidangnya. Ia mengeklaim, skema yang dilakukan Danantara membuat proses persiapan proyek waste to energy berjalan lebih cepat. Bahkan ia menyebut proyek ini bisa dilakukan groundbreaking sekitar Maret tahun ini.
"Semuanya kita buka di awal, harganya segini, kebutuhannya segini, mereka (investor) sudah bisa melihat. Dahulu negosiasinya, mohon maaf, satu proyek saja itu bisa 3-4 tahun baru putus. Sekarang kita baru buka Desember, kemarin mulai bidding di awal. Target kita, Maret sudah bisa groundbreaking," kata Rosan pada sebuah acara bertajuk Semangat Awal Tahun 2026 di Jakarta, Rabu (14/1/2026).
Baca Juga
Program Hilirisasi 'Groundbreaking' Januari 2026, 'Waste to Energy' dan DME Jadi Fokus
Ia membeberkan, proyek ini menarik minat banyak investor dari berbagai negara, antara lain Belanda, Jerman, Spanyol, Jepang, Korea, China, Malaysia, hingga Singapura. Ia mengatakan, lebih 100 perusahaan telah mendaftar mengikuti proses lelang untuk proyek waste to energy di Indonesia.
Adapun terkait persyaratan khusus, ia memastikan perusahaan-perusahaan yang ditunjuk Danantara merupakan yang terbaik di bidang ini. Ia juga mengajukan syarat agar para investor asing dapat menggandeng perusahaan lokal dengan membentuk sebuah konsorsium. "Kenapa? Kita ingin ada transfer of knowledge. Kita ingin ada transfer of teknologi," sebutnya.
Menurut Rosan, keputusan Danantara untuk membuka proses lelang pengerjaan proyek ini kepada calon investor asing bukan tanpa alasan. Ia mengungkap, persoalan sampah saat ini menjadi permasalahan serius yang harus segera diatasi. Sehingga, kata dia, pengelolaannya membutuhkan sentuhan dari pihak-pihak yang berkompeten dan memiliki fasilitas teknologi mumpuni.
Baca Juga
Cegah Bencana Sampah, Prabowo Kebut 34 Proyek Waste to Energy
Rosan memperkirakan, di Jakarta saja, produksi sampah mencapai 8.000-8.500 ton per hari. Di satu sisi, Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang juga terjadi penumpukan sampah hingga mencapai 55 juta ton. Bahkan, ia menggambarkan tumpukan sampah tersebut setara dengan 16.500 ukuran lapangan sepakbola.
"Nah, kita minta sistemnya ini, bukan hanya bisa mengelola 8.000, tetapi juga bisa mengelola sampah yang sudah ada juga. Jadi nantinya bersih. Kita juga minta teknologinya, tidak hanya yang harus sampahnya dipilah-pilah," ungkapnya.

