Program Hilirisasi 'Groundbreaking' Januari 2026, 'Waste to Energy' dan DME Jadi Fokus
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pemerintah akan mempercepat pelaksanaan program hilirisasi nasional dengan menargetkan penyelesaian sekitar 18 proyek strategis hingga Maret 2026. Program tersebut mencakup sektor energi hingga pertanian.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengatakan, tahap awal pelaksanaan program hilirisasi akan dimulai dengan enam kegiatan groundbreaking yang direncanakan berlangsung pada Januari 2026 ini. Program tersebut kemudian dilanjutkan pada Februari dan Maret hingga seluruh proyek yang telah disepakati dapat direalisasikan.
“Rencananya pada Januari ada enam groundbreaking dari program hilirisasi, yang kemudian dilanjutkan pada Februari dan Maret untuk menyelesaikan kurang lebih 18 program hilirisasi yang sudah kita sepakati,” ujar Prasetyo di Hambalang, Bogor, dikutip Rabu (7/1/2026).
Baca Juga
Bahlil Minta Waktu 1 Bulan untuk Matangkan Proyek DME dengan Danantara
Salah satu program prioritas adalah pengembangan proyek waste to energy yang akan dibangun di 34 kabupaten dan kota di Indonesia. Lokasi tersebut dipilih karena volume sampah harian telah mencapai lebih dari 1.000 ton per hari, sehingga memerlukan penanganan cepat dan terintegrasi.
Menurut Prasetyo, pengolahan sampah menjadi energi menjadi solusi penting untuk mencegah penumpukan sampah yang berpotensi menimbulkan berbagai masalah lingkungan dan sosial. “Ini memerlukan penanganan sesegera mungkin untuk diolah sehingga sampah-sampah tersebut tidak menggunung dan menimbulkan banyak masalah,” jelas dia.
Selain itu, pemerintah juga menyiapkan sejumlah program hilirisasi di sektor energi, termasuk pembangunan beberapa titik dimetil eter (DME) sebagai bagian dari upaya diversifikasi dan ketahanan energi nasional.
Di sektor pertanian, pemerintah mendorong program hilirisasi berbasis komoditas unggulan nasional. Prasetyo menegaskan bahwa Indonesia memiliki potensi besar pada produk bernilai jual tinggi, seperti kopi, cokelat, dan pala. Program ini tidak hanya bersifat padat karya, tetapi juga menawarkan nilai investasi yang signifikan.
Baca Juga
“Ini adalah salah satu program padat karya tetapi juga memiliki nilai investasi yang cukup besar, karena kita dikaruniai kemampuan untuk memproduksi komoditas-komoditas dengan nilai jual tinggi,” ujar Prasetyo.
Melalui percepatan hilirisasi, pemerintah berharap dapat meningkatkan nilai tambah sumber daya nasional, menciptakan lapangan kerja, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan di berbagai daerah.

