Sekjen DEN: Impor Minyak Jadi Titik Lemah Ketahanan Energi RI
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Sekretaris Jenderal (Sekjen) Dewan Energi Nasional (DEN), Dadan Kusdiana menyatakan, ketahanan energi Indonesia saat ini berada dalam kategori “tahan”, namun masih menyimpan kerentanan besar akibat tingginya ketergantungan terhadap impor minyak mentah. Impor minyak mentah menjadi titik lemah.
Menurut Dadan, berdasarkan indeks ketahanan energi nasional, posisi Indonesia saat ini berada di angka 7,0 dari skala 10, yang masuk dalam kategori 'tahan’. Meski demikian, skor tersebut belum mencerminkan kondisi ideal karena Indonesia masih dibayangi defisit minyak.
“Kalau diukur dari 0 sampai 10, ketahanan energi kita sekarang berada di angka 7,0. Itu kategori tahan. Tapi ketahanan ini masih sangat dipengaruhi oleh impor, terutama minyak,” kata Dadan Kusdiana saat menyampaikan pidato kunci pada acara Kaleidoskop Energi oleh The Purnomo Yusgiantoro Center di Jakarta, Selasa (13/1/2026).
Baca Juga
Bahlil Ungkap Devisa Negara Terbang Rp 776 Triliun per Tahun Imbas Impor Minyak
Dadan menjelaskan, konsumsi minyak nasional saat ini berada di kisaran 1,6-1,7 juta barel per hari (bph), sementara produksi dalam negeri hanya sekitar 605 ribu bph. Artinya, terdapat selisih hampir 1 juta barel per hari yang harus dipenuhi dari impor.
Kondisi tersebut, kata dia, berdampak signifikan terhadap keuangan negara. Pada 2024, Indonesia mengimpor sekitar 330 juta barel minyak, dengan total nilai Rp 776 triliun.
“Di situlah ruang yang sebenarnya masih sangat besar untuk meningkatkan produksi minyak dalam negeri. Ruang itu nyata, sekitar 1 juta barel per hari,” tegas dia.
Dadan mengungkapkan, meski pemerintah terus mendorong transisi menuju energi bersih, energi fosil, khususnya minyak dan gas (migas), belum dapat ditinggalkan sepenuhnya dalam waktu dekat. Optimalisasi produksi migas domestik justru penting untuk menekan impor sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Baca Juga
Trump Turunkan Tarif ke RI Jadi 19%, Pertamina Sudah Teken MoU Impor Minyak dari AS
Ia juga menyinggung tantangan lain di sektor energi, seperti gangguan infrastruktur transmisi dan distribusi yang dapat berdampak luas, sebagaimana pernah terjadi di wilayah Sumatra.
“Karena itu, penguatan sistem transmisi dan pengembangan super grid menjadi bagian penting dalam agenda kebijakan energi ke depan,” tandas dia.
DEN menargetkan indeks ketahanan energi Indonesia pada 2029-2030 melampaui angka psikologis 8, sehingga Indonesia masuk dalam kategori negara dengan ketahanan energi yang sangat kuat.
“Target kami, ketahanan energi Indonesia bukan hanya tahan, tapi sangat tahan. Energinya tersedia, bisa diakses, dan terjangkau oleh masyarakat,” ujar Dadan.

