WEF ke-56 di Davos Jadi Batu Ujian Danantara
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust— Pertemuan Tahunan World Economic Forum (WEF) ke-56 di Davos, 19 hingga 23 Januari 2026, menjadi batu ujian pertama Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, sebuah lembaga yang diresmikan Presiden Prabowo Subianto, Senin, 24 Februari 2025. Presiden Prabowo dijadwalkan hadir di pertemuan paling bergengsi para pemimpin dunia di bidang politik dan ekonomi. Sekitar 60 kepala negara dan pemerintahan serta ratusan pebisnis dan perwakilan organisasi internasional akan berpartisipasi di Davos dalam dialog dengan tema “A Spirit of Dialogue”.
Indonesia datang ke Davos dengan sejumlah agenda penting, yakni mendapatkan mitra bisnis untuk mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi. Untuk pertama kali Presiden Prabowo dan Danantara hadir di forum yang sudah berusia 56 tahun ini. Misi utama sudah pasti peningkatan investasi global ke Indonesia. Dalam desain ekonomi Prabowo, Danantara menjadi penggerak investasi di Indonesia. Semua aset BUMN sudah dialihkan menjadi aset Danantara dengan tujuan agar badan ini menjadi penggerak utama investasi di Indonesia. Meski perannya hanya sekitar 1%-2% dari total investasi, Danantara adalah penggerak utama investasi.
Sangat tepat kehadiran Presiden Prabowo dan Danantara di Davos. Banyak hasil yang bisa diraih negara di WEF, yakni peningkatan daya saing, percepatan inovasi, kolaborasi global, dan solusi atas tantangan dunia seperti ketidakpastian ekonomi, perubahan iklim, hingga perkembangan AI. Keberhasilan setiap negara di WEF tergantung pada kepiawaian dalam menyampaikan presentasi tentang Indonesia di berbagai forum diskusi. Banyak negara sudah mencicipi manfaat kehadiran mereka di Davos.
Pemerintah, Danantara, dan Kadin akan menyikapi tren ekonomi global dan memposisikan model bisnis Indonesia. Semuanya dilakukan untuk memperkuat citra Indonesia sebagai tujuan investasi yang stabil dan reformis, mengubah narasi kebijakan menjadi komitmen investasi konkret dari mitra global, dan menjajaki kemitraan jangka panjang (long-term partnership) dan peluang investasi bersama (co-investments).
Partisipasi ini merupakan upaya terpadu antara pemerintah (Kementerian Investasi/BKPM), Danantara, dan sektor swasta yang diwakili Kadin untuk menggaet dana investasi dan teknologi baru guna mempercepat pembangunan dan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sungguh ini merupakan batu ujian bagi Danantara, badan baru yang dibentuk pemerintah untuk mendongkrak investasi.
Diharapkan, kolaborasi Danantara dan swasta mampu meningkatkan kontribusi investasi terhadap produk domestik bruto (PDB) yang saat ini masih di kisaran 28%-29%. Dalam empat tahun ke depan, kontribusi investasi terhadap PDB diharapkan, perlahan, naik ke 35% hingga di atas 40% dari PDB sebagaimana pengalaman China selama tiga dekade.
Presiden Prabowo Subianto sudah dijadwalkan hadir di Davos. Ikut hadir sejumlah menteri ekonomi Kabinet Merah-Putih, di antaranya Rosan Roeslani, Menteri Investasi/Kepala BKPM dan CEO Danantara. Dari kalangan bisnis, hadir Ketua Umum Kadin Anin Bakrie dan WKUK Kadin Bidang Luar Negeri James Riady.
Empat pemimpin negara besar dipastikan tidak hadir di Davos. Mereka adalah Presiden AS Donald Trump, Presiden China Xi Jinping, Presiden Rusia Vladimir Putin, dan PM India Narendra Modi. India hanya mengirimkan utusan. Sedangkan pemimpin yang sudah memberikan konfirmasi hadir adalah Prabowo Subianto, Presiden RI bersama sejumlah menteri ekonomi dan CEO Danantara, Guy Parmelin, Presiden Konfederasi Swiss, Kristalina Georgieva, Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF), Christine Lagarde, Presiden Bank Sentral Eropa (ECB), Ursula von der Leyen, Presiden Komisi Eropa, Tedros Adhanom Ghebreyesus: Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Ngozi Okonjo-Iweala: Direktur Jenderal Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), Mark Rutte, Sekretaris Jenderal Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), Ajay S Banga, Presiden Bank Dunia, Sadiq Khan, Wali Kota London, Rishi Sunak, Mantan Perdana Menteri Inggris (sebagai pembicara tamu/ahli), dan James Manyika, Wakil Presiden Senior di Google. Pertemuan ini akan menyatukan sekitar 60 kepala negara dan pemerintahan, serta ratusan pebisnis tingkat tinggi dan perwakilan organisasi internasional.
Enam Isu Strategis
Setidaknya, terdapat enam isu strategis yang diperjuangkan berbagai negara di WEF. Indonesia juga berusaha menggapai hasil yang ingin diraih semua negara yang hadir di forum internasional itu.
Pertama, peningkatan daya saing dan inovasi. Negara seperti Jerman, AS, Swiss, dan Taiwan sering disebut "Super Innovators" karena kemampuan inovasi tinggi, membantu meningkatkan standar hidup. Apakah Indonesia mampu berkolaborasi dengan negara-negara ini?
Kedua, kolaborasi dan kemitraan strategis. WEF mempertemukan pemimpin untuk membahas isu global (geopolitik, energi, teknologi) dan membentuk aliansi, contohnya kolaborasi AI dengan AWS. AWS adalah singkatan dari Amazon Web Servies, yaitu platform komputasi awan (cloud computing) milik Amazon yang menyediakan beragam layanan teknologi melalui internet. AWS memungkinkan individu, startup, perusahaan, hingga pemerintah mengakses sumber daya IT tanpa harus memiliki infrastruktur fisik sendiri (server, data center, jaringan). Semua disediakan on-demand, elastis, dan dibayar sesuai pemakaian (pay as you go).
Ketiga, solusi tantangan global. Menghasilkan wawasan dan solusi melalui laporan seperti Global Risks Report dan Future of Jobs Report, serta mendorong kerja sama untuk mengatasi ketidakpastian, seperti pada WEF 2025. dua laporan utama menjadi rujukan penting bagi para pemimpin dunia, yakni Global Risks Report dan Future of Jobs Report. Kedua laporan ini memetakan tantangan global sekaligus arah perubahan dunia kerja dalam satu dekade ke depan.
Global Risks Report menyoroti meningkatnya risiko global yang saling terkait, mulai dari konflik geopolitik, disinformasi dan ancaman siber, hingga dampak perubahan iklim dan tekanan ekonomi. Dalam jangka pendek, ketegangan geopolitik dan gangguan informasi dinilai sebagai risiko paling mendesak, sementara dalam jangka panjang, krisis lingkungan dan kerusakan ekosistem menjadi ancaman terbesar bagi stabilitas global.
Sedang Future of Jobs Report menggambarkan transformasi besar pasar tenaga kerja akibat kemajuan teknologi, khususnya kecerdasan buatan, otomatisasi, dan transisi menuju ekonomi hijau. Laporan ini memproyeksikan jutaan pekerjaan baru akan tercipta hingga 2030, namun bersamaan dengan itu sejumlah pekerjaan lama akan hilang, sehingga kebutuhan akan reskilling dan upskilling tenaga kerja menjadi kunci daya saing masa depan.
WEF menegaskan bahwa dua laporan ini saling melengkapi: risiko global yang tidak dikelola dengan baik dapat memperburuk ketimpangan sosial dan ketenagakerjaan, sementara kesiapan sumber daya manusia menjadi faktor penentu ketahanan ekonomi dan sosial dunia. Davos pun kembali menjadi forum strategis untuk mendorong dialog, kolaborasi, dan solusi bersama menghadapi ketidakpastian global yang kian kompleks.
Keempat, percepatan adopsi teknologi. WEF membahas pemanfaatan AI yang aman dan kolaborasi lintas teknologi, mendorong kemajuan dalam berbagai sektor.
WEF menempatkan percepatan adopsi teknologi sebagai salah satu agenda utama dalam rangkaian diskusi di Davos. Fokus utama diarahkan pada pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) yang aman, etis, dan inklusif, serta penguatan kolaborasi lintas teknologi untuk mendorong kemajuan ekonomi dan sosial di berbagai sektor.
WEF menekankan bahwa adopsi teknologi tidak lagi sekadar soal kecepatan inovasi, melainkan juga soal tata kelola (governance). Pemanfaatan AI harus disertai kerangka regulasi yang jelas, perlindungan data, keamanan siber, serta mitigasi risiko penyalahgunaan, termasuk disinformasi, bias algoritma, dan ancaman terhadap privasi. Prinsip responsible AI menjadi landasan agar teknologi memberi manfaat luas tanpa menimbulkan kerusakan sosial.
Dalam pembahasan lintas sektor, WEF menyoroti peran AI dan teknologi digital dalam meningkatkan produktivitas industri, memperkuat layanan kesehatan, mempercepat transisi energi, serta memodernisasi sistem keuangan dan rantai pasok global. Teknologi dipandang sebagai enabler utama untuk efisiensi, inovasi, dan penciptaan nilai tambah, terutama di tengah perlambatan ekonomi global dan tekanan geopolitik.
WEF juga mendorong kolaborasi lintas teknologi dan lintas pemangku kepentingan, melibatkan pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat sipil. Pendekatan kolaboratif dinilai penting untuk memastikan interoperabilitas teknologi, berbagi standar global, serta mempersempit kesenjangan digital antara negara maju dan berkembang.
Selain peluang, WEF menegaskan urgensi peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Percepatan adopsi AI harus diiringi dengan investasi besar pada pendidikan, reskilling, dan upskilling tenaga kerja agar transformasi digital tidak memperlebar ketimpangan sosial dan ketenagakerjaan.
Secara keseluruhan, WEF memandang percepatan adopsi teknologi—khususnya AI—sebagai kunci daya saing masa depan. Namun, kemajuan tersebut hanya akan berkelanjutan jika dijalankan secara aman, bertanggung jawab, dan melalui kerja sama global yang erat, sejalan dengan semangat dialog dan kolaborasi yang diusung Davos.
Kelima, pengembangan kebijakan dan industri. Pihak yang hadir di Davis bisa membentuk agenda global untuk industri, mendorong dialog transformatif, dan mempercepat pertumbuhan ekonomi yang bertanggung jawab.
WEF menempatkan pengembangan kebijakan dan industri sebagai agenda strategis dalam pertemuan tahunannya di Davos. Forum ini menjadi ruang pertemuan para pemimpin negara, pelaku usaha global, lembaga multilateral, dan pemikir kebijakan untuk bersama-sama membentuk agenda global industri di tengah perubahan geopolitik, teknologi, dan ekonomi yang semakin cepat.
WEF menekankan bahwa kebijakan industri ke depan harus bersifat adaptif, kolaboratif, dan berorientasi jangka panjang. Pemerintah didorong menciptakan kerangka regulasi yang kondusif bagi inovasi dan investasi, sekaligus menjaga stabilitas, keberlanjutan lingkungan, dan keadilan sosial. Kebijakan publik tidak lagi dapat disusun secara sektoral dan tertutup, melainkan harus melibatkan dialog erat dengan dunia usaha dan pemangku kepentingan lainnya.
Dalam diskusi industri, WEF menyoroti pentingnya transformasi sektor-sektor kunci, seperti manufaktur bernilai tambah, energi bersih, pangan dan pertanian berkelanjutan, kesehatan, serta ekonomi digital. Pengembangan industri dipandang sebagai mesin pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan daya saing nasional, terutama bagi negara berkembang.
WEF juga mendorong dialog transformatif lintas kawasan dan lintas sektor untuk merespons tantangan global bersama, termasuk fragmentasi ekonomi, gangguan rantai pasok, dan tekanan iklim. Davos diposisikan sebagai platform netral untuk menyelaraskan kepentingan nasional dengan kebutuhan kolaborasi global, guna menghindari pendekatan proteksionis yang berpotensi menghambat pertumbuhan.
Selain pertumbuhan, WEF menegaskan bahwa agenda industri global harus mengusung prinsip pertumbuhan ekonomi yang bertanggung jawab. Hal ini mencakup praktik bisnis berkelanjutan, pengurangan emisi, pemanfaatan teknologi secara etis, serta peningkatan kualitas tenaga kerja melalui pendidikan dan pelatihan berkelanjutan.
Melalui pembahasan kebijakan dan industri ini, WEF berharap para pemimpin yang hadir di Davos dapat membawa pulang kesepakatan, inisiatif, dan kemitraan konkret. Tujuannya adalah mempercepat pertumbuhan ekonomi global yang inklusif dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat ketahanan industri dunia dalam menghadapi ketidakpastian global
Keenam, pengembangan SDM dan inklusi. Mempromosikan kesetaraan gender dan pemberdayaan, serta pembangunan masyarakat yang adil dan inklusif, selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.
WEF menempatkan pengembangan sumber daya manusia (SDM) dan inklusi sebagai pilar utama agenda global yang dibahas di Davos. Fokus diarahkan pada pembangunan manusia yang berdaya saing, berkeadilan, dan inklusif, sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
WEF menekankan pentingnya investasi pada pendidikan, kesehatan, dan keterampilan masa depan untuk memastikan tenaga kerja mampu beradaptasi dengan transformasi teknologi dan perubahan ekonomi. Program reskilling dan upskilling dipandang krusial agar pertumbuhan ekonomi tidak meninggalkan kelompok rentan dan pekerja terdampak otomatisasi.
Dalam isu inklusi, WEF mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan sebagai faktor kunci pertumbuhan berkelanjutan. Penghapusan kesenjangan akses terhadap pendidikan, pekerjaan, kepemimpinan, dan pembiayaan dinilai dapat meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat ketahanan sosial.
WEF juga menyoroti pentingnya pembangunan masyarakat yang adil dan inklusif, dengan memperluas akses terhadap layanan dasar, peluang ekonomi, dan perlindungan sosial. Pendekatan ini ditujukan untuk mengurangi ketimpangan, memperkuat kohesi sosial, serta mendorong partisipasi aktif seluruh lapisan masyarakat dalam pembangunan.
Melalui pembahasan SDM dan inklusi ini, WEF mendorong kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sipil agar agenda pembangunan global tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga memastikan kemajuan yang merata dan berkelanjutan bagi semua.
Yang Hendak Dicapai Indonesia
Indonesia hadir di WEF 2026 dengan tujuan menciptakan wajah global untuk menempatkan Indonesia sebagai rantai pasok berbagai produk berbasis sumber daya alam dan industri strategis. Dengan kehadiran Menteri Investasi/Kepala BKPM yang juga CEO Danantara serta para pebisnis yang tergabung di Kadin, Indonesia berusaha menarik investor global untuk berinvestasi di berbagai sektor prioritas.
Indonesia berencana memanfaatkan WEF 2026 sebagai panggung strategis untuk mempromosikan diri sebagai pemain kunci dalam rantai pasok global, khususnya melalui sektor pangan, energi terbarukan, dan industri bernilai tambah lewat hilirisasi, termasuk hilirisasi di bidang mineral dan logam untuk menarik investasi strategis dan kemitraan jangka panjang dari investor dunia.
Ada empat fokus Indonesia di Davos 2026. Pertama, investasi. Indonesia memperkenalkan sektor-sektor strategis seperti pangan, mineral dan logam, serta industri padat karya untuk menarik investasi asing. Kedua,rantai pasok global (global supply chain). Memposisikan Indonesia sebagai bagian penting dari rantai pasok dunia dengan ekosistem yang kondusif. Ketiga, kemitraan internasional. Memperluas jaringan, mencari co-investment, dan membangun kemitraan jangka panjang. Keempat, peningkatan nilai tambah. Pengembangan hilirisasi industri dan sumber daya alam.
Untuk hilirisasi dan industri bernilai tambah, Indonesian memperkenalkan industri pengolahan mineral dan logam dalam negeri serta sektor padat karya seperti pangan untuk menarik investor, sejalan dengan kebijakan hilirisasi nasional. Di bidang ketahanan pangan dan transisi energi, Indonesia menjelaskan potensinya dalam memenuhi kebutuhan pangan nasional dan regional serta pengembangan energi bersih.
Di bidang investasi strategis, Indonesia memperkenalkan Danantara sebagai badan pengelola investasi strategis negara untuk membangun kemitraan global yang kokoh. Untuk penciptaan lapangan kerja, Indonesia mendorong investasi yang menciptakan lapangan kerja dan pertumbuhan inklusif. (PD)

