Lonjakan Ekspor Rempah ke Pakistan Perkuat Posisi Indonesia sebagai Pemasok Utama
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Lonjakan ekspor rempah Indonesia ke Pakistan sepanjang Januari–Oktober 2025 menegaskan semakin menguatnya hubungan dagang kedua negara. Pada periode tersebut, nilai ekspor rempah Indonesia ke Pakistan meningkat signifikan sebesar 42%, didorong oleh kenaikan ekspor bunga pala hingga 100%, pala 65%, dan cengkih 49 %.
Kinerja ini memperkuat posisi Indonesia sebagai pemasok rempah terbesar kelima bagi Pakistan pada 2024, sekaligus menunjukkan potensi besar yang masih dapat dikembangkan di sektor rempah.
Wakil Menteri Perdagangan RI Dyah Roro Esti Widya Putri menilai capaian tersebut tidak terlepas dari keterikatan historis Indonesia dan Pakistan dalam perdagangan rempah yang telah berakar kuat pada budaya, kuliner, dan industri tradisional kedua negara. Menurutnya, kedekatan historis ini menjadi modal penting untuk memperdalam kerja sama perdagangan bilateral, khususnya di sektor rempah yang memiliki nilai strategis tinggi. Hal itu disampaikan Wamendag Roro dalam forum business to business dengan importir rempah Pakistan di Karachi, Pakistan, Jumat (9/1/2026).
Dalam forum tersebut, Wamendag Roro menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu produsen rempah berkualitas tinggi dengan rekam jejak panjang sebagai pusat perdagangan rempah global. “Bagi Indonesia, Pakistan merupakan pasar yang dinamis dan tumbuh dengan permintaan kuat terhadap rempah, baik untuk konsumsi domestik maupun pengolahan dengan orientasi ekspor. Ini menjadi dasar untuk memperkuat sinergi kedua negara,” ujarnya saat membuka forum yang dihadiri oleh 10 importir rempah Pakistan.
Baca Juga
RI- Pakistan Sepakat Menuju CEPA 2027, Perluas Kerja Sama Ekonomi Strategis
Secara nilai, ekspor rempah Indonesia ke Pakistan pada 2024 tercatat sebesar US$ 16,7 juta. Meski tren ekspor pada periode 2020–2024 sempat mencatat penurunan rata-rata 2,65%, lonjakan signifikan sepanjang Januari–Oktober 2025 menjadi sinyal kuat pemulihan sekaligus ekspansi perdagangan rempah Indonesia ke pasar Pakistan. Wamendag Roro menilai angka tersebut menunjukkan peluang peningkatan perdagangan yang masih sangat terbuka.
“Angka ini menunjukkan peluang peningkatan perdagangan masih sangat terbuka. Dengan kolaborasi yang lebih erat, kita dapat memperluas pangsa pasar Indonesia sekaligus menciptakan manfaat nyata bagi kedua negara,” tegasnya.
Sebagai tindak lanjut konkret, Kementerian Perdagangan bekerja sama dengan Konsulat Jenderal RI di Karachi telah menyelenggarakan sesi business matching pada 6 Januari 2026. Kegiatan yang digelar secara hibrida tersebut mempertemukan 10 perusahaan Indonesia dan delapan importir Pakistan, dengan kesepakatan awal berupa pengiriman sampel produk untuk membuka peluang kerja sama lanjutan.
Potensi pasar Pakistan dinilai sangat menjanjikan, seiring dengan pertumbuhan impor rempah negara tersebut yang mencapai 34,5% pada periode 2023–2024. Pemerintah Indonesia, menurut Wamendag Roro, berkomitmen mendukung kerja sama bisnis antarpelaku usaha melalui perwakilan perdagangan di luar negeri dan kebijakan yang kondusif. “Melalui perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri dan kerangka kebijakan yang mendukung, kami siap memfasilitasi pertukaran informasi dan match making para pelaku bisnis,” jelasnya.
Wamendag Roro juga mengajak para importir Pakistan untuk memandang Indonesia tidak sekadar sebagai pemasok, melainkan sebagai mitra strategis yang mampu menjamin stabilitas pasokan jangka panjang, kualitas produk, serta diversifikasi rempah. Ia menekankan bahwa kemitraan ekonomi yang kuat tidak hanya dibangun melalui perjanjian dan angka statistik, tetapi juga melalui kepercayaan, dialog, dan keterlibatan berkelanjutan.

