Toyota: Penjualan Mobil 2026 Tergantung Kebijakan dan Daya Beli Publik
Poin Penting
|
BANDUNG, investortrust.id - Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam menilai kinerja industri otomotif pada 2026 ini masih dalam kondisi ketidakpastian. Ia menyebutkan, penjualan ke akan bergantung pada kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah.
"2026 kita lihat faktor-faktor penggeraknya. Biasanya penjualan itu kan ditentukan oleh kebijakan pemerintah, yang kedua bagaimana juga likuiditasnya, kemudian juga daya beli ke depannya," ucap Bob saat Media Workshop di Bandung, Jawa Barat, Jumat (9/1/2026).
Bob Azam menjelaskan, terhadap berbagai macam faktor pada 2026 ini baik secara positif maupun negatif. Jika melihat di tingkat global, yakni Amerika Serikat (AS) dan China yang berpotensi akan melakukan Quantitative Easing (QE) yang berdampak untuk negara-negara berkembang, seperti salah satunya Indonesia.
Baca Juga
Dongkrak Industri Otomotif 2025, Enam Pameran Gaikindo Catat Penjualan 60.000 Mobil
"Biasanya kalau ada printing money, mengalir kapitalnya drastis ke negara-negara berkembang. Sehingga stock market kita nanti akan hijau royo-royo. Tapi itu sesaat ya dalam waktu setahun-dua tahun, (lalu) balik lagi kita akan lebih dalam lagi turunnya," ungkap Bob.
Selain itu, pada 2026 ini, Ketua Bidang Ketenagakerjaan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) ini juga menyoroti mengenai kesehatan dari kinerja perbankan dan likuiditasnya. Pasalnya, menurut Bob, dalam beberapa tahun belakangan laju kredit terus mengalami penurunan.
Bob Azam menjelaskan, penurunan pertumbuhan kredit tersebut mengalami penurunan dari 20% hingga kini menjadi 7%. Padahal, menurutnya, pembelian mobil sangat mengandalkan lembaga pembiayaan atau kredit perbankan, yakni berkisar di angka 70-80%.
"Kalau dulu isunya middle segment, isunya adalah kesehatan keuangan mereka. Jadi banyak yang mau beli mobil tapi kesehatannya enggak sehat. Jadi perbankan enggak berani mengeluarkan kreditnya. Tapi kalau yang middle up, itu confidence untuk consumption-nya akan menentukan. Duitnya punya gitu loh, tapi kalau misalnya confidence-nya enggak ada, dia akan mengurangi belanja," bebernya.

