Paradoks Pariwisata Bali, Wisatawan Naik tapi Okupansi Hotel Tertahan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Colliers Indonesia mengungkapkan tingkat okupansi hotel di Bali tidak menunjukkan pertumbuhan signifikan meskipun jumlah kunjungan wisatawan terus meningkat. Kondisi ini disebut sebagai situasi paradoks dalam industri perhotelan Bali.
Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto mengatakan, peningkatan jumlah wisatawan tidak otomatis mendorong kenaikan tingkat hunian hotel. Salah satu penyebabnya adalah pergeseran wisatawan ke akomodasi non-hotel, terutama vila yang tidak terdaftar.
“Jumlah wisatawan ini terus naik, tapi okupasi hotel tidak ikut melonjak. Salah satu jawabannya adalah mereka pindah ke vila, terutama yang tidak terdaftar dan menawarkan harga lebih murah dan ruang lebih besar sehingga mengubah pangsa pasar hotel,” ungkap Ferry dalam virtual media briefing Property Market Q4 2025, Rabu (7/1/2026).
Dalam kesempatan itu, Ferry menyebut pelancong domestik dari segmen pemerintah mengalami pelemahan. Pemangkasan anggaran berdampak pada berkurangnya kegiatan meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE), yang selama ini menjadi penopang utama sejumlah hotel di Bali.
Baca Juga
“Pasar domestik, khusus dari pemerintah justru melemah karena anggaran juga dipangkas, MICE menyusut dan ini memukul hotel-hotel yang selama ini bergantung pada event,” jelas Ferry.
Sebaliknya, pertumbuhan justru datang dari wisatawan mancanegara (wisman). Ferry menyampaikan, jumlah wisatawan asing ke Bali telah melampaui level sebelum pandemi, dengan Australia masih menjadi pasar utama, disusul China, India, dan Eropa. “Yang menarik adalah wedding tourism dari India, serta wellness tourism di Ubud dan Uluwatu yang menjadi sumber permintaan baru,” tutur dia.
Menurut Ferry, tingkat okupansi hotel yang belum tumbuh signifikan juga dipengaruhi keberadaan vila dan homestay yang tidak berizin. Ia menilai kondisi tersebut merugikan pendapatan pemerintah daerah hingga menggerus pangsa pasar hotel resmi di Bali. “Hotelsuite yang seharusnya lebih berhak justru tidak kebagian pasar, sehingga pertumbuhan okupansi hotel terlihat tidak signifikan,” ujar Ferry.
Selain itu, ia menyoroti kendala infrastruktur di Bali, terutama jalan dan transportasi massal, seperti LRT Bali yang belum dapat menekan kepadatan lalu lintas di sana.
Dikatakan Ferry, kemacetan di sejumlah kawasan wisata Bali dinilai memengaruhi kenyamanan wisatawan. “Infrastruktur jalan dan transportasi massal menjadi kendala. Macet di beberapa kawasan, seperti Canggu sudah luar biasa dan membuat perpindahan wisatawan memakan waktu lama,” kata dia.
Baca Juga
Pariwisata Bali Panen Rekor Wisman, Menpar Pastikan Layanan dan Aktivitas Ekonomi Stabil
Berdasarkan data Dinas Pariwisata Provinsi Bali, jumlah kunjungan wisatawan ke Bali pada 2022 tercatat 8,016 juta kunjungan, meningkat menjadi 9,877 juta kunjungan pada 2023 dan 10,120 juta kunjungan pada 2024. Sementara itu, pada periode Januari–Oktober 2025, jumlah kunjungan mencapai 8,014 juta.
Adapun sepanjang Januari–Oktober 2025, pasar wisatawan Bali didominasi Australia sebesar 35%, diikuti India dan China masing-masing 12%. Data juga mencatat kunjungan wisatawan asing mencapai 585.802, sementara wisatawan domestik tercatat 2,485 juta, dengan puncak kunjungan domestik terjadi pada April bertepatan dengan libur Lebaran 2025.

