Harga Emas Dekati Rekor di Tengah Memanasnya Geopolitik Global
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas melanjutkan kenaikannya pada Selasa (6/1/2026), didorong lonjakan permintaan aset aman setelah penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat (AS) memicu ketegangan global. Sementara investor menunggu rilis data penggajian AS untuk membaca arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Harga emas spot naik 0,8% menjadi US$ 4.485,39 per ons, setelah melonjak hampir 3% pada hari sebelumnya, sehingga kian mendekati rekor tertinggi US$ 4.549,71 yang dicapai pada Selasa (24/12/2025). Kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Februari ditutup 1% lebih tinggi pada US$ 4.496,10.
Penguatan tersebut terjadi setelah akhir pekan yang diwarnai eskalasi ketegangan menyusul tindakan AS terhadap Venezuela. Nicolas Maduro pada Senin (5/1/2026) menyatakan tidak bersalah atas tuduhan narkotika, setelah AS menangkapnya dan membawanya ke New York. Peristiwa ini memperbesar persepsi risiko global dan mendorong investor mengalihkan dana ke aset aman.
“Para pedagang logam mulia melihat lebih banyak risiko di masa depan dibandingkan pedagang saham dan obligasi,” kata analis senior Kitco Metals Jim Wyckoff, dilansir CNBC.
Baca Juga
Harga Emas Antam (ANTM) Naik Rp 27.000 Imbas Ketegangan AS–Venezuela
Dia menambahkan bahwa serangan AS terhadap Venezuela pada akhir pekan telah memicu permintaan berkelanjutan untuk emas dan perak sebagai aset safe haven.
Emas, yang secara tradisional dipandang sebagai pelindung nilai di tengah ketidakpastian, mencatat kinerja tahunan terbaiknya sejak 1979 dengan kenaikan 64,4% sepanjang 2025. Tren tersebut menegaskan peran emas sebagai penyeimbang portofolio ketika volatilitas meningkat dan imbal hasil aset berisiko tertekan.
Di sisi makroekonomi, pelaku pasar menantikan laporan ketenagakerjaan bulanan AS yang akan dirilis Jumat (9/1/2026), yang diperkirakan menunjukkan penambahan 60.000 pekerjaan pada Desember, sedikit lebih rendah dibanding 64.000 pada bulan sebelumnya. Data ini penting karena menjadi salah satu penentu arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Menurut data LSEG, para pedagang memperkirakan Federal Reserve akan memangkas suku bunga dua kali tahun ini. Ekspektasi tersebut memperkuat daya tarik emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil, sehingga cenderung diuntungkan dalam lingkungan suku bunga rendah.
Sementara itu, Presiden Federal Reserve Richmond Tom Barkin menyatakan bahwa perubahan suku bunga lebih lanjut harus “disesuaikan dengan cermat” untuk menyeimbangkan risiko pengangguran dan inflasi. Pernyataan ini menegaskan kehati-hatian bank sentral di tengah tekanan harga dan perlambatan pasar tenaga kerja.
Optimisme terhadap prospek emas juga datang dari lembaga keuangan global. Morgan Stanley memproyeksikan harga emas dapat melonjak hingga US$ 4.800 pada kuartal keempat 2026. Alasannya penurunan suku bunga, perubahan kepemimpinan Federal Reserve, serta pembelian yang kuat oleh bank sentral dan dana pasar uang.
Baca Juga
Kenaikan tidak hanya terjadi pada emas. Harga perak yang mencapai titik tertinggi sepanjang masa di US$ 83,62 pada Minggu (29/12/2025), naik 5,4% menjadi US$ 80,68 per ons. Perak mencatat kenaikan tahunan terkuatnya pada 2025 dengan lonjakan 147% seiring meningkatnya minat industri dan investor.
Harga platinum naik 7,2% menjadi US$ 2.435,20 per ons, sementara paladium diperdagangkan 5,9% lebih tinggi pada US$ 1.821,68 per ons. Kinerja positif logam mulia dan logam industri tersebut mencerminkan kombinasi dorongan safe haven dan permintaan sektor manufaktur.

