Memanasnya Ketegangan di Timur Tengah Dorong Kenaikan Harga Minyak Dunia
JAKARTA, investortrust.id - Harga minyak mentah Brent naik US$ 1,23 (1,68%) ke posisi US$ 74,29 per barel pada Senin (21/10/2024). Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik US$ 1,34 (1,94%) ke level US$ 70,56 per barel.
Melansir Reuters Selasa, (22/10/2024), harga minyak melonjak hampir 2% pada Senin (21/10/2024), memulihkan sebagian kerugian lebih dari 7% yang terjadi minggu lalu. Memanasnya ketegangan di Timur Tengah, serta kekhawatiran tentang kemungkinan serangan balasan Israel terhadap Iran, mendorong kekhawatiran pasar terkait pasokan minyak dari wilayah tersebut.
Pada hari Senin, pasukan Israel mengepung rumah sakit dan tempat penampungan pengungsi di Jalur Gaza utara, menurut petugas medis, saat operasi terhadap militan Palestina semakin intensif. Israel juga melancarkan serangan yang menargetkan situs-situs keuangan milik Hizbullah di Lebanon.
Baca Juga
Menteri Luar Negeri Amerikan Serikat (AS) Antony Blinken dijadwalkan melakukan upaya diplomasi untuk mendorong gencatan senjata saat ia bertolak ke Timur Tengah pada Senin, menurut Departemen Luar Negeri AS. Ia diharapkan memulai negosiasi untuk mengakhiri perang Gaza, serta meredakan konflik yang meluas ke Lebanon.
Utusan AS Amos Hochstein akan bertemu dengan pejabat Lebanon di Beirut pada Senin untuk membahas kondisi gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah.
"Harga minyak mendapat dorongan pagi ini seiring meningkatnya pertempuran di Timur Tengah. Israel juga mempersiapkan serangan balasan yang kemungkinan akan mengarah ke Iran," kata wakil presiden senior perdagangan di BOK Financial, Dennis Kissler.
Kissler mengatakan, kejatuhan harga minyak dalam dua pekan terakhir sebagian besar disebabkan oleh aksi jual besar-besaran, karena pasar minyak terus mencari keseimbangan antara permintaan yang melambat dan ketidakstabilan di Timur Tengah.
Baca Juga
Prabowo Ingin B35 Dinaikkan ke B60, Bahlil Pastikan Pasokan Minyak Sawit Aman
China memangkas suku bunga acuan pinjaman seperti yang diperkirakan pada Senin kemarin sebagai bagian dari paket stimulus yang lebih luas untuk menghidupkan kembali perekonomian. Data pada Jumat menunjukkan ekonomi China tumbuh dengan laju paling lambat sejak awal 2023 di kuartal ketiga, meningkatkan kekhawatiran tentang permintaan minyak.
Menurut kepala Badan Energi Internasional (IEA), pertumbuhan permintaan minyak China diperkirakan akan tetap lemah hingga 2025, meskipun ada langkah-langkah stimulus terbaru dari Beijing.

