Zulhas Usul Pembukaan Keran Impor Sapi Perah demi Topang Kebutuhan Susu MBG
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Koordinator bidang Pangan, Zulkifli Hasan meminta agar keran impor sapi hidup dibuka, demi memperkuat pemberdayaan sapi di Tanah Air.
“Kalau kita mau pemberdayaan, maka kita bebaskan impor sapinya,” kata Zulhas, sapaannya, usai menggelar rapat koordinasi terbatas mengenai penetapan cadangan pangan pemerintah 2026, di kantornya, Jakarta, Senin (29/12/2025).
Zulhas menjelaskan pembukaan keran impor sapi dilakukan agar sapi dapat memiliki nilai tambah. Dengan sapi hidup, akan lahir kelompok kerja untuk penggemukkan hingga penanaman rumput untuk pakan.
Terbukanya keran impor sapi hidup juga akan mampu ikut mengatur tata niaga impor daging beku. Zulhas menyerahkan pengaturan impor daging sapi beku ke Bulog agar harga daging dapat dikendalikan.
“Nanti Mentan, Badan Pangan bisa mengatur harga untuk Lebaran dan seterusnya,” usulnya.
Selain daging, kebutuhan sapi hidup sangat penting untuk menopang ketersediaan susu untuk program Makan Bergizi Pemerintah atau MBG. Menurut data, kebutuhan susu per Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG mencapai 450 liter per hari.
Ketersediaan susu itu untuk memenuhi kebutuhan bagi 3.000 penerima manfaat, dengan asumsi satu orang penerima manfaat mendapat jatah 150 mililiter susu.
Baca Juga
Nestle Indonesia Beri Apresiasi kepada Peternak Sapi Perah Rakyat di Jawa Timur
Peternak sapi rakyat sendiri memiliki produktivitas susu mencapai 10 liter per hari. Artinya, masih terdapat kebutuhan hingga 440 liter susu sapi per hari.
Dengan kehadiran sebanyak 19.000 SPPG pada Januari 2026 mendatang, maka diperlukan sekitar 855.000 ekor sapi perah.
Selain kebutuhan susu perah yang meroket, kebutuhan buah untuk SPPG pun juga melonjak. Zulhas sempat menyoroti kebutuhan pisang per SPPG yang mencapai 3.000 buah pisang. Dengan perhitungan rata-rata 1 sisir menghasilkan 6-22 buah pisang artinya dibutuhkan sekitar 150 sisir pisang, dari 15 pohon yang rata-rata menghasilkan 10 sisir pisang dalam tiap tandannya.
Dengan demikian, Zulhas memperkirakan untuk memasok 19.000 SPPG pada Januari 2026 mendatang, dibutuhkan buah pisang yang berasal dari 285.000 pohon sekali konsumsi.
“Jadi kalau ada 30.000 (SPPG) perlu 50.000 hektare (lahan) pisang. Belum ayam, belum beras, jadi kita harus persiapan dengan baik,” jelas dia.

