Harga Emas Dunia Terkoreksi Jelang Akhir Tahun 2025
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Harga emas mengalami koreksi pada Senin (29/12/2025). Berdasarkan pantauan di Bloomberg, harga emas di Commodity Exchange Inc atau bursa berjangka New York turun 0,53% di posisi US$ 4.528,5 per troy ons.Tak jauh berbeda, harga emas di pasar spot juga turun 0,43% menjadi US$ 4.513,92 per troy ons. Kedua harga tersebut dikumpulkan dari perdagangan pada pukul 09.25 WIB.
Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi menyatakan, bahwa harga emas yang turun pada Senin akan mencapai support US$ 4.509 per troy ons. Apabila terjadi penurunan harga hingga Rabu (31/12/2025), harga emas akan mencapai level support di US$ 4.487 per troy ons.
“Kalau seandainya harganya naik, ya resisten pertama itu di US$ 4.550. Nah di Rabu, itu kemungkinan kalau menguat resisten kedua di US$ 4.570,” kata Ibrahim, Senin (29/12/2025).
Baca Juga
Harga Referensi dan Patokan Ekspor Emas Mulai Diberlakukan, Ini Dasar Penentuannya
Sementara harga emas Antam pada Sabtu (27/12/2025) tercatat Rp 2.605.000 per 1 gram. Angka tersebut naik Rp 16.000 dibandingkan harga Jumat (26/12/2025) yang mencapai Rp 2.589.000 per 1 gram.
Penurunan harga emas dunia akan membuat koreksi terhadap harga emas di gerai Logam Mulia. Data terakhir pada Senin ini pukul 08.30 WIB, harga emas Antam mencapai Rp 2.596.000 per 1 gram atau turun Rp 9.000 dari Sabtu.
Ibrahim menjelaskan ada dua faktor yang mempengaruhi harga emas dunia jelang tutup tahun ini. Pertama, faktor geopolitik. Masalah yang mengemuka antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela kemudian Nigeria dengan AS menjadi pertimbangan melorotnya harga emas dunia.
Perseteruan AS dan Venezuela mengenai komoditas minyak mentah memunculkan kekhawatiran ketidakpastian harga komoditas ini ke depan. Di sisi lain, AS juga akan mengirim pasukan khusus untuk mengalami serangan pasukan militan Nigeria ke kantong-kantong minyak di Nigeria. Serangan militan itu membuat pengusaha tambang minyak AS merasa dirugikan.
“Kita tahu bahwa Nigeria adalah satu negara anggota OPEC yang memproduksi 1,3 juta barel per hari,” ujar dia.
Baca Juga
Emas dan Perak Tembus Rekor Tertinggi Baru di Tengah Ketegangan Geopolitik dan Pelemahan Dolar
Faktor lainnya adalah indeks dolar AS atau DXY yang melorot karena data ekonomi AS yang sudah dirilis menunjukkan adanya pelemahan inflasi. Kondisi ini membuka peluang bagi bank sentral AS atau The Fed untuk kembali memangkas suku bunga acuan pada awal 2026. “Walaupun sebelumnya Jerome Powel (Ketua The Fed) mengatakan bahwa di 2026 kemungkinan hanya menurunkan suku bunga sekali,” kata dia.
Penurunan suku bunga pada awal tahun ini, menurut proyeksi Ibrahim akan kembali mengerek harga emas dan logam mulia dunia ke depan.

