Wamen Ekraf Sebut Kreator Indonesia Sudah Diakui Dunia
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamen Ekraf) Irene Umar menilai posisi kreator Indonesia di mata dunia sebenarnya sudah kuat dan diakui secara global. Namun, tantangan utama justru datang dari rasa kurang percaya diri pelaku ekonomi kreatif.
“Kalau untuk positioning kreator di Indonesia bukan hanya kreator ya, tapi pelaku ekonomi kreatif sebenarnya sudah diakui oleh seluruh dunia. Cuma kadang-kadang kitanya minder aja,” ujar Irene dalam acara Ekraf Annual Report (EAR) 2025 di Jakarta, Senin (22/12/2025).
Baca Juga
Serap 27 Juta Tenaga Kerja, Ekonomi Kreatif Datangkan Investasi Rp 132 Triliun
Melihat masalah tersebut, Kementerian Ekonomi Kreatif (Menekraf) mendorong pelaku ekonomi kreatif untuk berani tampil dan memasarkan karyanya ke pasar internasional. Dia menegaskan bahwa target pasar produk kreatif Indonesia tidak boleh berhenti di dalam negeri. “Targetnya jangan hanya market Indonesia, jangan hanya nasional, tapi internasional,” bebernya.
Menurut Irene, produk kreatif Indonesia, baik digital maupun non-digital, sejatinya telah mendapat pengakuan global. Ia pun mengajak publik untuk aktif mendukung penggunaan produk lokal.
Pengaruh akar budaya yang kuat
Menteri Ekonomi Kreatif (Menekraf) Teuku Riefky Rasya menambahkan, pasar global juga memiliki kecenderungan mencari negara dengan akar budaya yang kuat. “Market kreatif dunia itu biasa mencari negara-negara yang akar budayanya kuat,” ujarnya.
Ia mencontohkan keberhasilan negara lain, seperti Jepang dengan anime, Korea dengan K-pop, dan India dengan Bollywood yang berangkat dari kekuatan budaya. Menurutnya, Indonesia memiliki peluang serupa melalui kekayaan budaya Nusantara. “Kreator-kreator Indonesia ini yang mempunyai peluang untuk masuk ke pasar global,” kata Menekraf.
Baca Juga
Menekraf Pede Ekonomi Kreatif Tetap Tumbuh di Tengah Gejolak Global
Dalam acara itu, Kemenekraf menyampaikan pencapaian setahun terakhir. Dari data Kemenkraf, sektor digital dan aplikasi menjadi sub-sektor nomor satu, disusul oleh fesyen dan kriya.
Sementara itu, negara asal investor terbesar berasal dari Singapura, Hong Kong, Amerika Serikat, Korea Selatan, dan China, yang menempatkan Indonesia sebagai salah satu tujuan utama investasi ekonomi kreatif di kawasan.

